Senjaku
menggugat…
Tidak
ada aroma kopi di ujung sore, kopi yang kata A.H adalah media pelarian. Pelarianku
menanti saat dimana siluet tangan kiri kita membujuk gunung
menyembunyikan mentari di beberapa senja mendatang.
Cangkirku
pun menggugat…
Cangkirku
adalah loyalis sejati, tidak peduli sepekat apa warna yang kusiramkan, pada derajat
celcius berapa yang kutuangkan. iya pasrah terhadap nasib kosongnya yang
menganga, seakan tak sengaja merepresentasikan hati para jomblo. Jika cangkirku sudah
begitu pasrah, harusnya tidak adalagi yang memperdebatkan indikator kepantasan populasi penikmat kopi.
Namun
tidak dengan mbah Sudjiwo Tedjo. Presiden Republik Jancukers itu mencoba mengubah
pola konsumtif rakyatnya dengan asumsi bahwa kopi dan rokok adalah dua variabel
yang menyatu dalam satu partikel. Ia heran terhadap manusia yang suka ngopi
tapi tidak ngerokok. Jika ia heran dengan hal seperti itu, harusnya ia lebih
heran pada ke-akuan-nya, manusia berambut panjang tapi berkumis. hehehe… (ampun
mbah)
Hatiku
menggugat sujiwo tejo…
Ahh sia*!
saya lupa beliau adalah presiden, penguasa di sebuah negara yang proses terbentuknya
tak banyak orang paham, apakah melalui proses perjuangan menuju kemerdekaan
ataukah melalui ledakan big bang. Jika ku gugat, pastinya barisan some
people loyalists beliau akan menyerangku. sementara aku? hanya bertumpu
pada something loyalis… yah sebuah cangkir yang pasrah.
Mbah…
di ujung senja ini maaf jika saya berharap Tuhan mencukupkan rezekimu sebagai
presiden jancukers yang profesional, berharap asumsimu ini bukan strategi kode
keras kepada produsen rokok mengenai niatanmu menjadi celebrity endorser. ;)
Harusnya
mbah tidak menyembunyikan pemahamannya bahwa Kopi adalah Kebutuhan gender
praktis, kebutuhan yang diidentifikasi dapat menolong kaum perempuan
dalam posisi subordinatnya di masyarakat. Kebutuhan yang mampu memanipulasi
sekitar bahwa dia adalah jiwa yang kuat. Di lain maksud, ia sedang berusaha
menginstruksikan tentang cara sederhana untuk berdamai dengan rasa. Seperti sepenggal kutipan dalam cerpen Titipan Sebotol Hujan Untuk Sapardi: "Kopi dan saya tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang lebih pahit"
Mbah…
sebenarnya marahku ini sekaligus kode kepada dia (yang entah siapa). Kode kepada
someone yang pastinya akan jauh lebih berarti dari something loyalis,
someone yang kelak akan memiliki
beberapa “sebab marah” padaku.
Marah
ketika saya lupa memakai lotion anti nyamuk saat mengetik, lalu akan kudiamkan
beberapa detik kemarahannya sambil mencari icon shutdown, dan bergegas kubayar
kemarahannya dengan segelas kopi keadilan rasa.
Marah
ketika aku membaca sambil berbaring, lalu dengan sigap kusandarkan kepalaku
pada pundaknya yang ikhlas, bercakap tentang ide, tentang rencana2 besar, sesekali
menyelinginya tentang kelucuan hidup yang harus ditertawai.
Marah
yang seperti ini tak masalah kan? Kata tetangga temanku, antara marah bernada kritikan
dan marah bernada hinaan itu beda tipis. Serupa tapi tak sama, yang membedakan
adalah cara dan niatnya. Kelak marah kita (iya.. aku dan kamu) adalah cara
menguatkan akar, bukan cara membakar pohon.
Dan
semoga kata aamiin selalu mendarat pada doa yang baik. Seperti rindu yang selalu
mendarat pada dinding coretanku ini. coretan yang konsisten dengan ketidak
konsistenan genrenya yang uncontrollable, kadang sok radikal, sok
liberal, sok idealis kadang juga sok puitik dan romantis. Mencoret adalah
caraku mendeskripsikan fajar, siang, senja, dan malam. Mencoret adalah caraku menyatukan
kejujuran dan kebohongan tanpa mengkompromikan keduanya. Mencoret adalah caraku
merayakan kemerdekaan indvidual tanpa terikat pada keharusan universal. Coretanku
adalah otoritasku bermain dengan kata, bercakap dengan apa yang samar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar