Dari kejauhan beberapa ajakan hadir membujuk meriuhkan malam
Namun kupilih menepi untuk melukis sosok samar
di deretan huruf
Setelah ini, kau boleh mengejekku dengan syarat kau harus yakin jika
dirimulah yang kumaksud
Maaf, ini adalah caraku mengajakmu bercakap di dimensi lain
Tepatnya sabtu malam
Demi menghargai malam, aku telah mengabaikan senja yang sebelumnya ada
Ibarat malam adalah dirimu, dan senja adalah dia beserta beberapa pilihan
pilu yang telah berlalu
Maaf kau masih kupermainkan samar, meski pada akhirnya akulah yang
dipermainkan ketidak pastian
Dan masih saja aku heran, entah bisikan apa yang menjadikanmu kepantasan untukku
Aku tidak
mengenalmu sangat, tapi aku tak pernah salah menempatkan kekagumanku
Kekasih samar…. Apa kabarmu belakangan ini?
Maaf menanyai kabar, seakan tak pernah kuintai dirimu disudut nyata dan
maya
Kau tahu? Dalam kesan santaiku
kusempatkan senyumi keanehanmu, gerutui keangkuhanmu
Dan kuaminkan setiap apa yang kau semogakan
Diam diam, tak terlihat, tak terdengar…
Kekasih samar… masihkah kau tak sepeka kulit arimu?
Harusnya kau mengerti jika aku tak sepandai “Dan Brown” menyematkan symbol pada tiap kata
Dan kuakui hingga coretan ini kau baca,
lumayan lelah bagiku menghadirkan simbol yang kucipta sendiri
Yahh… Hanya untuk menegaskan samarmu tanpa terbaca pada yang lain
Luput dari pandangan sekitar, termasuk mereka yang mengharap pundaknya
terbabani olehku
Sadarlah… kau begitu tega
Setiap pagi kau
membuatku cemburu pada peluk genggaman cangkirmu
Setidaknya kau
bisa menantangku meramu 2:1 di cangkir yang kosong seperti hatimu
dan kupastikan
setiap seruputannya adalah pelemahan
keangkuhanmu
Kau beruntung
diberi rasa oleh perempuan ini
Karena samarmu
yang hendak ku tuju dipersimpangan waktu
Aku rela mengabaikan
mereka yang mengucap selamat datang di tepian setia
Tapi awas, jangan
sesekali menganggapku perempuan bodoh bila kau tau kenyataan itu
Aku pernah berfikir bahwa kau adalah nadaku yang dirilis ulang oleh Sang
Pencipta
Kau tak sama seperti yang pernah ada, tapi samarmu menghadirkan rasa
yang sama.
Namun hingga coretan ini kau baca, ada keraguan yang dititip oleh waktu
Terserah, apa kau mau menolongku?
atau selamat bertemu pada penyesalan
seperti yang sudah sudah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar