Assalamu alaikum gaessss…
hayo yang dingin mana pelukannyaaa???!!!
guling maksud saya bebsss :D.
Kali ini saya kembali nyorat
nyoret di sini sekedar senam jari yang mulai mendingin sembari menghangatkan
suasana hati. Maklum, di luar lagi hujan jadi dinginnya ikutan numpang
berteduh di sampingku.
Oh iya bebs, setelah musim pengantin berlalu tidak
terasa kembali kita dipertemukan musim hujan… Alhamdulillah yaaa…
Berhubung karena hujan, sehingga
pemakluman bagi kita semua jika di socmed kini berbanjiran kata-kata yang
mendramatisir tentang hujan. Ada yang berkoar tentang rindu, tentang dingin,
sampai ada yang nge-publish kesibukannya mencari sumber kehangatan di socmed… ckckck. Mblo… mblo…
Lewat coretan ini saya mau
mengingatkan, khususnya para jomblower nih ya… bahwa sumber kehangatan disaat
hujan bukanlah dari pelukan. Maaf saja, secara sepihak paradigma seperti itu
saya kategorikan sebagai teori klasik. Saya melihat bahwa teori tersebut sudah tidak
cucok lagi terhadap kondisi
per-anakmuda-an yang ada, sebagaimana Adam
smith dengan teori ekonominya yang sudah tdk sejalan dengan kondisi
perekonomian global. Uppss…
Sebagai kaum intelektual (baca: Jomblo Tidak Rantasa' ), cukuplah
ketidak kreatif-an kalian terlihat pada ketidakmampuan menggaet seorang patjar ato apalah namanya. Jangan
biarkan lagi persepsi keliru terhadap kaum jomblo meraja lela di kalangan manapun
termasuk elite parpol dan relawan2 yang ngehek dan alay. Heheheh gak nyambung
yahh? Gak papalah, yang jelas intinya jomblo itu selalu mengedepankan
otak, bukan imaji yang gak rasional. Bukan menghayalkan kehangatan tapi
menciptakan kehangatan. Cara menciptakan kehangatannya juga gak perlu repot
repot membuat matahari tandingan. Konsep
tandingan2 macam itu biarlah punya DPR dan penguasa2 rakyat. So, di DPJ (Dewan
perwakilan Jomblo) ini kita tidak usah mencontoh hal semacam itu, ingat… kita
ini kreatif dan terhormat :D.
Kehangatan ala2 jomblo itu semua
asyik nyantai kayak ngepantai. Misalnya rendam kaki ato mandi pake air hangat,
tapi yang gitu kayaknya sudah mainstream
yah mblo? So, kalo mau yang agak ekstrem, skali2 kamu bisa coba nyalain api
unggun di atas tempat tidur. :D :p
Ada lagi nih cara memperoleh
kehangatan… klasik sih tapi tetep asyik, kehangatan yang bersumber dari isi
gelas. Tau Kopi kan? Itu tuh yang item2 pahit kayak kamu mblo. Hahaha peace
\m/.
Dengan segelas kopi, kalian akan
mendapat ekspektasi luar biasa tentang kehangatan, ditambah komparasi rasa, dan
makna2 filosofi dari seduhan kopi. Kata Andrea Hirata nih yahh… “Kopi tak sekadar air gula berwarna hitam,
tapi pelarian dan kegembiraan- Segelas kopi bak dua belas teguk kisah hidup”.
Nah bukan melebihkan tapi itulah adanya bebs. Di dalam segelas kopi, ada memori
tentang pahit manis kehidupan… tentang unsure yin dan yang yang selalu
berdampingan. Di dalam segelas kopi,
kalian akan tau tentang keadilan rasa… dimana rumus 1:2 (1 sendok kopi : 2 sendok
gula) mengingatkan kita bahwa keadilan dan kenikmatan itu bukan tentang sama
rata tapi tentang pas rasa.
Nah… selain kopi, di daerah
asalku ada jenis minuman penghangat yang gak kalah nikmatnya dengan kopi.
Namanya sarabba’… wisssshhh tetiba saya langsung pengen bebbss. Minuman ini
asli mujarab buat yang lagi dimasukin angin alias masuk angin. Hangatnya tuh
sampe kedalam-dalam bebs. Sarabba merupakan minuman hangat dari campuran rebusan
air gula merah, santan, jahe, dan kalo mau special biasanya ditambah telur
kampung atau susu. Rasanya manis, pedas, gurih, dan hangat. Dengan
kenikmatannya, setiap seruputan adalah penyadaran bahwa kepedihanlah yang mampu menghangatkan manis, gurih dan nikmatnya hidup yang semakin dingin
dan angkuh.
Sekian coretan saya yang rada sok
bijak bebs… Apapun itu, setidaknya malam ini ada segelas hangat di peluk
genggaman. Ingat keadilan rasa… yang penting dijamin halal dan bermanfaat. Jangan ada tandingan diantara kita \m/ Cheers!!! :D
Waassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar