Asslamu alaikum…
Alhamdulillah kita telah beranjak
dari Tahun 2014. Seiring dengan itu pula masing-masing dari kita mengutarakan,
menselatankan, menimurkan dan membaratkan setangkup harapan di atas bumi ini,
hehehe. Harapan yang terus berulang dari tahun ke tahun. Ada kesyukuran dan ada
penyesalan.
Bumi telah memasuki usia 2015
terhitung sejak manusia mengenal penanggalan Masehi. Bukan waktu yang sebentar,
meski kita tidak sepenuhnya menjadi saksi sejarah sepanjang usia tersebut. Yah,
saya dan kamu hanya khalifah penerima tongkat estafet dari penghuni2 sebelumnya
dan insyaAllah kelak mengamanahkan tongkat tersebut ke generasi selanjutnya.
365 hari dalam setahun bukan waktu
singkat untuk melakoni peran kita , ada yang tersimpan dan ada yang terlupakan.
Dan hari ini kita kembali mengulang ritual Tahun baru dengan cara kita
masing-masing. Mencoba menapak tilas perbuatan, keangkuhan, kenakalan,
kekonyolan, tangisan, teriakan, kesepian, gurauan, pemberontakan, kepasrahan,
yang ter-frame dalam setiap jejak.
Di usianya yang ke 2015 apakah
bumiku kian menua? Iyya… bumiku kian menua, namun lucunya yang pikun malah para
penghuninya. Cenderung lupa pada Tuhan, lupa pada sesama, pada budak, pada punggawa,
pada udara, pada matahari, pada bulan, pada tanah, pada air, dan lupa jika ia
sering menolak lupa.
Maaf kami sedang lupa karena sedang dicumbu waktu. Kami sedang
lupa jika ritual seperti ini hanyalah syndrome efek semalam. Padahal kami tau jika
pergeseran waktulah penyebab pergeseran lempengan2 di bawah laut, siap memuntahkan gelombang dahsyat kapanpun itu sperti kemarin yg telah menyisakan efek traumatis pasca
tsunami 26 Desember 2004. Kemarin kami sempat mengingat, tapi maaf jika malam ini
kembali lupa dan hanya tersadar pada moment tertentu dengan ucapan kalimat
sederhana tanpa tindakan. Yaahh seperti pada coretanku ini.
Apakah bumiku sudah sakit
sakitan? Iyya bumiku sedang sakit, tp maaf malam ini penghunimu lagi sibuk
memainkan petasan, mengguncang tubuhmu dan mengotori paru-parumu dengan asap
asap harapan. yaahhh mungkin ini candu budaya kami tiap tahunnya, seperti candu
pada rokok, pada kopi, pada music, pada mie instan dan hal menarik lain yang
kami sendiri lupa akan unsur negatif yang ada.
Apakah bumiku telah rapuh? Iyya, fisik
bumiku mulai merapuh. Sana sini terjadi kerusakan alami dan kesengajaan. Banjir manado, longsor banjar negara, jatuhnya airAsia dan lain lain. Lebih parahnya lagi jiwa penghuninya ikut-ikutan
merapuh. Berdebat atas nama rakyat, mempertontonkan kemiskinan di reality show hanya untuk sebuah rating siaran, penjarahan baik secara terang2an oleh geng motor hingga perampokan dgn gaya elegan dibalik kebijakan penguasa. Dan banyak lagi keunikan perilaku kami diluar ambang moral, lucu sekaligus menyedihkan. Ada apa ini? Ahh… untuk malam ini, bumiku mungkin lelah mengingatkan hingga
hujanpun ikutan diam dan berhenti.
Tapi wahai bumiku… kami membutuhkanmu hari esok dan seterusnya. Teruslah
kuat meski kami makin beringas dan kejam. Tetaplah tabah karena kami makin
angkuh dan apatis. Tetaplah jadi pijakan kami, karena kami butuh media refleksi
untuk tetap tawaduk di hadapan Sang Pencipta. Kami butuh alam sebagai
taswir keindahan yang telah diberikan Sang Pengasih. Kami butuh ruang untuk
mengukur sesuatu yang tak dapat kami jangkau dengan mata kami. Yaahh Kami butuh
kamu untuk menebar cinta. Dan yakinlah wahai bumi, masih ada penghunimu yang
peduli dan rela berjuang terinjak mati mempertahankanmu.
Semangat Ulang Tahun Baru Bumiku. Panjang umur dan berjayalah. Semoga menjadi semangat baru bagi kami penghunimu, dan semoga kita semua senantiasa dalam Lindungan-Nya. Bismillahirrahmanirrahim.
Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar