Assalamu alaikum agangs, apa kabar? Ada yang rindukah dengan
pencoret yang tidak bermutu ini? hehehe.
Sudah sore tapi di luar
keliatannya masih terik, membuat kita yakin jika Indonesia kini tidak seadem
Indomaret (bukan iklan). Namun beberapa hari yang terik bin panas ini, tempat
yang padat manusia bukan di Indomaret, melainkan gedung gedung yang berlabelkan
Universitas dan sejajarannya. Tanya kenapa?
Wadah kaum intelektual sedang
ramai pengunjung. Terik dan panas tidak menjadi alasan untuk luput dari rasa bangga
atas almamater yang sedang melekat di
tubuhnya. Saya pernah seperti mereka. Dan percayalah… disamping fenomena
el nino seiring kemarau panjang, sekarang juga sedang terjadi fenomena kakak2an
dan adek2an seiring dengan kehadiran MABA alias MAhasiswa BAru tersebut.
Tapi sebelum nyinggung soal MABA
beserta modus modus yang terkandung di dalamnya, saya mau perkenalkan diri dulu
deh. Mana tau ada yang pura2 lupa dgn perempuan penganut anti patjaranisme ini
(ndak usah dibahas). Juga hitung2 mensosialisasikan pepatah yang sudah disaneering
oleh Daeng Maman yang katanya “tak kenal maka ta’arufan”.
Nama saya mita, kadang dipanggil
piyo, dan beberapa sebutan lain yang diberikan oleh mereka yang cuek terhadap
histori penyembelihan kambing waktu saya berumur 2 minggu. Saya mantan MABA
yang unyu unyu beberapa tahun lalu. Mantan MABA dari kampus hijau di kota
Makassar. Maaf, bukan maksud menyombongkan diri sebagai manusia yg pernah makan
bangku kampus, coretan ini cuma mau mengenang kembali jaman tante MABA
dulu nak. Hehehe.
Gimana, sudah kenal dengan saya? Berarti sudah sayang dong?
:D
Sebagai MABA, ada beberapa
prosesi yang harus kita jalani sebagai “takdir rekayasa” yang membudaya. Salah
satunya adalah keharusan menjalani masa orientasi yang kebanyakan orang lebih
familiar dengan sebutan OSPEK. Belakangan ini beberapa Perguruan Tinggi
kabarnya sudah tidak memberlakukannya, mungkin dengan beberapa pertimbangan yang
kemudian diamini sebagai kebijakan. Ataukah adanya pergeseran aplikasi yang
keliru terhadap tujuan mulia sebuah OSPEK. tapi, kali ini coretanku tidak akan
membahas atau memposisikan diriku sebagai garis pro maupun kontra mengenai
kebijakan. Terlalu kaku bebs. Toh kacamataku sedang hilang, saya ragu
penilaianku akan menimbulkan penilaian kaca mata kuda yang tidak objektif.
Berbicara OSPEK, kalo di kampusku
dulu namanya OPAK, singkatan dari Orientasi Pengenalan Akademik. Tapi ada juga yang nakal mengasumsikannya sebagai Orientasi Perkenalan Aku dan Kamu. Nah loh?! Momen
ini paling dinanti nanti oleh senior terlebih lagi senior jones yang terancam
DO. Heheehe peace….
Sebagian menganggap OPAK sebagai
lahan produktif bagi para senior untuk menegaskan eksistensinya sekaligus menyeleksi
MABA mana yang akan dijadikan “adek” tanpa harus berhadapan dengan komisi
perlindunan anak. Dengan demikian, terjalinlah hubungan kakak2an dan adek2an.
Sekali lagi
saya pernah MABA, tapi saya bukanlah MABA yang termasuk dalam list incaran
“adek2an”. Entahlah, mungkin karena saya kurang menarik pada saat itu. Ataukah
karena sering bolos OPAK, sehingga kakak senior nyaris tidak sadar kalau
ada “adek” manis yang luput dari pandangan. Hahahah. Maklum, saat itu saya sedang sibuk2nya
mengais rejeki sebagai tindakan antispatif jika harga BBM yang selalu linear
terhadap harga lainnya mengalami kenaikan.
Ketika OPAK berlangsung, saya lebih senang
mengambil barisan paling belakang. sok mengamati karakter MABA lain yang datang dari berbagai penjuru, sambil
diam2 mengagumi beberapa sosok menarik di hadapanku. Kurasa opsi tersebut sudah
sangat bijak untuk menghindari kebosanan retorika dan aksi dari beberapa kaum
yang mengaku intelek.
Dari hasil pengamatanku, MABA
yang masuk list incaran modus adek2an adalah MABA yang paling menonjol
dan mendapat pengakuan “cantik” berdasarkan hasil diskusi bisik2 senior. Dalam
kondisi ini, definisi cantik tidak lagi bersifat relative melainkan sebuah
kesepakatan kakak2an, ibarat permainan issue di bursa saham. Layaknya investor,
para kakak pun mengatur strategi untuk melakukan persaingan bebas yang
berdampak pada efek monopili sebuah produk, dimana produk tsb tidak lain adalah si adek. Ketika adek sepakat
termiliki, maka dipublikasikanlah dengan tujuan usaha si kakak menjadi go
public. Dengan demikian, value si kakak pun menjadi naik ratingnya.
pusingkan dengan uraian
coretanku? Yess, akupun. hahaha
Sederhananya, MABA yang masuk dalam
chart terpopuler adalah mereka
yang menjadi incaran oleh banyak senior (jumlahnya melebihi jumlah warna balon
dalam lagu ”Balonku”). Dan yah… ketika saya mencoba mengurainya dalam chart, saya
menemukan diriku di kolom degradasi.
ohmegat!! deretan paling bawah deh pokoknya. Haruskah saya mempertontonkan
atraksi saltoku sekedar mencuri perhatian sekitar? Ah kurasa itu terlalu
cepat.
Tapi tunggu dulu, saya membenarkan
bahwa beberapa MABApun sebenarnya senang memberi umpan lambung terhadap senior.
MABA juga kadang modus buat curi2 perhatian kok. kadang ada junior yang dikit2
nanya sesuatu (padahal) tidak penting dengan gaya yang dialay2kan, ada juga
yang beracting sakit agar bisa mendapat
perhatian, bahkan ada yang pura2 amnesia lupa jalan ke toilet supaya bisa di
antar oleh si kakak. Banyak deh modus konyol lainnya. Dalam posisi ini, analogi
bursa saham gak cocok buat si adek. Mungkin lebih
cocock jika dianalogikan sebagai produk yang di promosikan melalui sales door to door. Hehehe.
Tidak sampai disitu investigasi
sok tau yang kulakukan. Heheheh. saat menjadi
seniorpun, saya masih iseng mengamati fenomena MABA. Saat itu saya penasaran
bagaimana rasanya modusin junior, sekalian mengukur sejauh mana kemampuan saya
dalam hal modus memodus dan bagaimanakah
“menariknya” saya di mata mereka. Saya tidak ingin kejadian yang dialami
Idolaku; BJ Habibie terulang. Dimana dia kecewa karena Negara baru mengakui kemampuan
IQnya yang ternyata melebihi IQ Albert Enstein (yang juga idolaku). Tujuan beliau
bukan untuk menyombangkan diri, setidaknya kita bisa mengabarkan pada dunia
bahwa Negara mereka tak lebih hebat dari Negara kita. Yes… dialah salah satu
idolaku, Beliau muslim tercerdas di dunia! Tokoh dari SULSEL yang diberi gelar “Mr.crack”
karena penemuan teorinya. Presiden ke 3
Indonesia yang berhasil membuat rupiah menguat, ketika rupiah berkisar Rp. 10.000 – Rp.15.000
justru kepemimpinannyalah rupiah menguat ke Rp. 6.500/dolar Amerika. nilai yang tidak pernah terjadi lagi sampai saat ini.
Oke lanjut bebs…
bermodal kepolosan, retorika
ngasal, dan mimik memelas, saya kemudian menyatakan “perasaan” ke beberapa
junior di waktu yang berbeda. Dari uji coba tersebut, alhasil 2 dari 10 junior
yang saya tembak itu memberi jawaban yang ngegantung, dan selebihnya menolak bebs…
NOLAK??!! OHMEGAAAT!! urutan degradasi lagi kemampuanku? Gila gak tuh??? Saya baru percaya bahwa arti
dari masalah adalah ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. That’s
problem bebs!!! Tapi okelah, tidak perlu dibahas lebih lanjut analisisnya. Saya percaya kalian punya interpretasi atas
kejadian penolakan tersebut. :D
Sayangnya, momen OPAK saat itu
tidak berjalan tuntas. Terjadi gejolak yang entah siapa lawan siapa. Tepatnya 1
september 2010, gemuruh, teriakan,
lelarian, dan rasa panik tercover di kampus peradaban itu. Kampus bergejolak
dan mengakibatkan beberapa senior diDrop Out. Momen dimana saya
menyaksikan dan merasakan berhadapan
dengan situasi badik takbu’bu. Sekali lagi, saya bukan sejarawan yang
tak perlu ragu menulis kejadian. Bagiku sejarah adalah nyata, namun
kebenarannya tidak dapat ku pastikan.
Melalui coretan ini, saya tidak
berhak memberi saran mengenai eksistensi mahasiswa seutuhnya. toh pada dasarnya
saya bukanlah mahasiswa yang baik secara totalitas. entah itu sebagai
akademisi, aktivis, maupun romantisi…
hallaaahhh!!! Saya bukan akdemisi tulen, toh saya kadang sukar memahami rumus
mata kuliah statistic. saya bukan aktivis hebat, toh saya sering lalai dalam
menyuarakan hak rakyat. Saya juga bukan anti hedhonisme, toh saya senang
bergaul dengan beberapa teman hedhon yang peduli terhadap sesama. Pun saya
bukan mahasiswa gaul, toh saya lebih
sering memesan nasi lombok dibanding produk KFC.
Nikmati, dan lakukan yang
terbaik. Kebanggan bukan tentang pengakuan, tetapi kepuasan batin dalam
pencapaian kebaikan. berbuat baik itu sederhana, tidak perlu berambisi menjadi
yang terbaik dengan menjadikan sekitar tampak buruk. Jika saling menghargai itu
asik, kenapa memilih untuk arogan?
Akhir kata bersinergilah wahai
mahasiswa, kakak-adek tidak masalah, tapi tujuan kuliah menjadi
prioritas!!! Selamat sore dan Selamat memasuki Masyarakat Ekonomi Asean!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar