Kala itu senja menjelang maghrib…
(nulis sambil memalingkan wajah keatas, dengan sudut kemiringan 450).
Tepatnya ketika saya pulang dari
pertemuan salah satu komunitas yang tak dianggap namun percaya dan yakin bahwa kami lebih keren
dibanding personil band korea. Yah sebut saja komunitas atlit lompat karung,
keren kan? *Kibas poni*
Saat itu hati saya penuh suka
cita, perasaan yang ini hampir sama saat
saya mendapat penghargaan gaya lompat karung paling elegan di komunitas tersebut.
Saking senangnya, saya yang dulunya takut sama kucing kecil, malah senyum
sambil ngedip2kan mata ke kucing yang ada di depan gedung pertemuan. Alhasil
kucing tersebut malah menjerit ketakutan kemudian berlari ke jalan raya hingga
nyaris tertabrak odong2. Percaya gak percaya, kejadian tersebut diluar dugaan
para pengamat cuaca, bahkan pengamat politik skalipun. Luar biasaaaa…
Makassar mulai gelap, saya masih
berdiri di depan gedung, tepatnya dipinggir jalan raya.
“apa kita bikin disitu, belum
pulangki?” tanya seorang teman.
“iyye, sebentar... lagi ada saya
tunggu”. Jawabku
“owh ada tommi yang jemputki
skrng? Cieee, kalo begitu saya duluan yah”
Pertanyannya seakan
mendiskreditkan statusku yang slama ini mereka judge sebagai J***** (maaf, bkn
jablay).
Belum sempat saya meminta klarifikasi, teman saya si anu itu (nama
disamarkan) kemudian ngebut begitu saja meninggalkanku. Agak kesal juga sih,
tapi kekesalan itu terhenti saat mataku menangkap keberadaan seorang pria bertopi
hitam dari ujung tikungan jalan. Itu dia sdh
datang, kataku dalam hati. kusambut ia dengan senyuman sambil berlari kecil
ke arahnya (disertai efek angin ala film2 india).
Penasaran apa yang terjadi?
Jangan kemana2 saya akan kembali setelah hitungan ke-3
Satu…
Tigaa…
Saya dan si pria bertopi kemudian
saling berhadapan. Ada pancaran kebahagian dari raut wajah kami, aku tersenyum
dia balas tersenyum, aku melambai diapun melambai, aku salto dia malah tertawa…
ehhh.
Oh iya sebut saja namanya Syarif.
“wah makin manis aja gue.”
Kataku.
“hahah, saya iyya ndak maniska? Padahal
saya pakemi lagi topi pemberianta.”
“heheh, kalo kita gagahki. wah,
inimi pesananku daeng? Makasih banyak, maaf sudah merepotkan!”
“Tidak merepotkan sama skaliji. Inilah
berkahnya ramadhan, saling memberi saling menerima. Saya beri kamu ikan kering dan mangga muda, trus saya terima uangnya. Hahaha” Canda daeng syarif.
Itulah yang membuat perasaanku
penuh suka cita saat itu. Alasan pertama, muslim/muslimah mana yang tidak merasakan suka cita saat diberi umur panjang bertemu kembali Bulan Ramadhan?. Kedua, kebayang kan bagaimana rasanya saat sahur pertama
dengan menu kesukaan kita? Ikan kering racak manggaa cuy…
Di Kios kecil daeng syarif-lah, awal mula saya bernegosiasi tentang perburuan ikan
kering dan mangga muda. Menurutku tempat nongkrong paling asyik saat
turun atau nunggu angkutan umum yah di situ, di pinggir jalan, tepatnya kios daeng syarif yang penuh keramahan dan kekeluargaan. Terlebih lagi, kota yg katanya go green malah krisis pohon tempat berteduh. jadi jangan heran kalo kebanyakan orang memilih ngademnya di mall2. Saya sempat berpikir jangan2 ini Market conspiracy temanG? Tp, ah sudahlah... sy masih dangkal dan sok untuk mengkaji hal macam itu. Hehehe
Yups, dialah daeng syarif, lelaki tua yang penuh
semangat dan pantang menyerah dalam menghidupi anak2 dan istrinya. Keberkahan awal bulanpun datang dari ulurantangannya. Untung ada daeng syarif, terima kasih daeng syarif :D.
*Haapppy Ramadhaaann, and it's time to Saaaaaahhhhuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrrrr :)
Pun, di bulan ini, dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu
neraka, dan diikat serta dirantai setan-setan (sehingga sulit menggoda
dan mengganggu orang yang berpuasa). Di bulan ini terdapat satu malam
yang lebih baik daripada seribu bulan. Akan tetapi, barang siapa yang
terhalang mendapatkan kebaikan di bulan ini, maka sungguh merugilah ia.
(HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah).
Sebenarnya, banyak hal menarik
yang ingin ku tulis tentang daeng syarif dan keluarga. Tapi apa boleh buat kayaknya raga
sudah stengah hidup, sperempat lapar dan sperampat waras.