Tampilkan postingan dengan label caritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label caritaku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Mei 2016

Lipatan dialog dini hari



Ujung malamku menyelipkan beberapa ingatan. spontan membuat lengkungan senyum sembari sesekali memeluk  segelas hangat ke tiga di akhir pekan ini.
Berbicara soal weekend,  kebanyakan dari kita memaknai sabtu dan minggu tak hanya sebagai nama hari dalam perpektif waktu, tapi juga menjadi ruang komparasi untuk mengantagoniskan hari lain. Misalnya Monday yang enteng dianggap akronim dari MONsterDAY. Apa salah senin? Toh senin  hanya sebuah nama yang melekat pada sebuah hari, sama seperti nama yang melekat pada ke”aku”an kita. Jadi berterimakasihlah terhadap senin, coba jika senin tidak dinamai senin, tapi dinamai mita (misalnya). Apa kalian sanggup mencederai keindahan nama itu? (kemudian muntah berjamaah).
Anggap saja itu konsekuensi saat Weekend dipahami sebagai momentum untuk membebaskan diri dari rutinitas pekerjaan dan tanggung jawab formalistik lainnya. Mungkin inilah yang oleh Muhammad Ridha yang dalam bukunya dikategorikan dan terdefinisikan sebagai waktu senggang. Sebuah karya menarik yang menjadi bahan kupasan kegiatan bedah buku kawan2 di Makassar tadi malam. Sebuah dialog yang ingin menilik kerentanan perempuan menjadi bidikan empuk budaya konsumerisme dalam pemanfaatan waktu senggang. Ya, sebuah upaya polarisasi gaya hidup agar tetap terseret pada ceruk kepentingan utama korporasi yakni profitabilitas.
Oh iya melalui coretan ini, mohon maaf atas ketidak sempatanku memenuhi undangan teman2 sekedar merompa rompai (baca: turut meramaikan) kegiatan, turut menuangkan pandangan standar dari perempuanG yang sedang setengah senggang ini.

Menyinggung “waktu senggang” dalam konsepsi general, kebanyakan dari kita menspesialkan  malam minggu sebagai wujud apresiasi waktu senggang. Satnite, yah sebuah modifikasi global atas diksi malam minggu, khususnya pada lebensraum anak muda kekinian. Sehingga ritual satenite pun seakan harus diaktualisasikan dengan aksi kekinian. 
Ah sayang, hal tersebut rupanya kontras dengan satniteku kali ini, apakah ini indikasi ketidak mudaan saya? whatever. saya hanya ingin sok bijak mengamini bahwa kemewahan bukan garansi kebahagiaan dan kenyamanan.
Sekedar berbagi kisah, Kemarin satnite kulalui dengan menapaki kelokan kelokan jalan di atas mobil pickup pengantar bibit padi para tani di sebuah desa di Gowa, mobil yang rela memberi saya tumpangan di saat genting. Nyaman, saya menikmati perjalanan yang pada dasarnya bukan untuk bersatnite ria, melainkan perwujudan sikap tanggung jawab sebagai perempuanG panggilan (baca: kaum freelance). Keasikan perjalanan itupun memicu dialog ringan antara saya, bapak yang mengumudi, beserta anaknya yang duduk di tengah. Kami berdialog dengan bahasa sederhana  namun dengan intonasi yang menggebu bermaksud mengimbangi kibasan angin yang nyaris lebih ribut dari suara kami. Sesekali kami menemukan analogi kritis nan menggelitik dalam pembahasan yang random itu. Mulai dari ranah pendidikan, situasi perekonomian, sampai pada kebijakan kantong plastik berbayar.  Dalam jeda pembahasan, kadang saya refleks menggoyangkan kepala seakan terpengaruh musik dangdut pilihannya, sama seperti saat larut dalam lantunan alter bridge. Satu lagi, kalian harus takjub mengetahui bahwa di tengah antusiasme bapak pengemudi mengorasikan pendapatnya, kecepatan kemudinya tak ikut kendor, dan dengan lincah mampu menghindari  lubang liar yang betebaran. kukira itu satnite yang romantis. Setidaknya menghadirkan sedikit penyadaran bahwa setiap moment genting kadang perlu disiasati dengan kenekatan, kenekatan yang  akan menghadiahi kita cerita menarik melebihi ekspektasi pengguguran tanggung jawab.
Bapak dan mobil pickup itulah pendukung penuh keberangkatan saya di malam yang lumayan larut. merekalah musabab hingga saya sampai di sini,  daerah dataran tinggi di kabupaten gowa, yang tentunya lebih familiar jika langsung kutulis “Malino”. Salah satu objek yang  kebanyakan orang menjadikan daerah ini sebagai opsi untuk menghabiskan waktu senggangnya.
untuk masyarakat sulsel, siapa yang tak tahu malino? Lembah, gunung, air terjun, pinus, sampai tenteng dan  markisa  adalah  ornamen2 yang melekat pada eksistensi wilayah tersebut, sebuah given icon yang terkonstruksi untuk memelihara ingatan masyarakat tentangnya. Ingatan yang mampu merefleksikan pemaknaan realitas social, dan tak jarang melahirkan wacana2 analitis tentang apa yang bergeser dan apa yang utuh dari sekelumit fenomena yang ada.
lembah, gunung, air terjun, merupakan keniscayaan untuk mentaswirkan keindahan dan kuasaNya. Para pecinta Alam bahkan rela menaklukan ketinggian dan semak belukar, sekedar mengapresiasi ketakziman dan kesyukurannya. Dulunya Climbing, hiking, dan penamaan serupa dengan itu boleh dikata merupakan aktivitas yang memiliki batasan segmen yang jelas (terkait populasi pencinta alam). Namun semuanya berubah, terlebih pasca boomingnya film 5 cm. ah gaees, berubahnamo kehidupanga. Sadar atau tidak (semoga sadar), mendaki sebagai aktivitas pecinta alam pun kini bergeser menjadi trend kekinian penegas ke’gaul’an para muda (yang tua minggir dulu). Belum lagi dukungan paras artis yang mengendorse itu memenuhi syarat patut untuk digandrungi, sehingga tak butuh waktu lama memberi pengaruh kolektif yang berujung pada  tuntutan “keinginan ekonomi” para labil.
Jika dulu “Pecinta alam” melakukan perjalanan ekstreem bermaksud menemukan ruang dialog bersama alam atau setidaknya membuka pikiran berdialog dengan diri sendiri, sekarang kebanyakan dari kita (bisa jadi termasuk saya) mendaki untuk membuka ruang dialog pada aplikasi media social saja, sekadar aktualisasi diri berharap mendapat ratusan like dan comment sanjungan. aku mendaki, aku berselfie, maka aku ada. moody gaul like this. Perjalanan yang mainstream, sungguh.
Belum lagi soal pinus, pohon yang juga menjadi icon  malino. Di balik kokohnya pohon yang berderet menjulang tersebut, ia sedang merepresentasikan sebuah ancaman konflik antara stakeholder. Hutan Pinus, apakah Hutan Adat ataukah Hutan Negara? Urgensi kebijakan kemudian (seakan) menunjukkan tajinya, memberi ketegasan garis diametral melalui hirarki penguasaan antara Hak Negara, hak komunal dan hak individual. Sebagai awam hukum, saya selalu skeptis memaknainya sebagai pa’balle toli (baca: obat telinga), toh kita tidak bisa menafikan bahwa kebijakan yang ada cenderung tidak implementatif. Dengan kata lain, syndrome labilitas pun tidak hanya menjangkiti masyarakat sebagai subjek. Tetapi juga pada produk hukum yang dianggap sebagai kebijakan namun kontrafaktual dalam realitas sosialnya. Lagi2 ini menyoal tentang penguasaan ruang ruang produksi, bibit ketimpangan dan pemberangusan hak ada di sana.
Ah, sudahlah. Mungkin terlau bacrit dan sok peduli saya menanggapi fenomena ini. sudahlah, untuk sementara biarkan saya skeptis. Mataku mulai sayu, mungkin ingin tidur.
Sekali lagi maaf atas berbagai moment ketidak senggangan waktuku di waktu senggangmu. pun sebaliknya.  semoga silaturahim tak renggang temans.
Izin, sebelum berdoa biarkan saya melipat ingatan, melipat ingatan pada kisah lain, tentang segelas hangat dipeluk genggaman. yah, mungkin ini tentang dia. Dia dan kesederhanaannya.

Jumat, 20 November 2015

Milad dan Insinuasi Garis Keras


Assalaamualaikum, bagaimana harinya? Seharian tidak lupa bahagia kan temans?
Sudah larut sih… tapi ditemani sisa efek kafein dan sebatang coki2, saya mau nyoretin blog yang cukup lama terabaikan ini.

Alhamdulillah hari ini kembali berbanjiran ucapan selamat serta doa dan harapan dari sekitarku, pun juga berbanjiran tawaran ngopi, dengan note “belakang bayar”. Hehehe.
Sekedar mengingat, tanggal ini bertepatan dengan tangis perdanaku yang disambut kumandang adzan oleh seorang pria gagah, juga menjadi pesakitan bahagia perdana oleh seorang perempuan hebat, yang melalui rahimnyalah Tuhan mempercayakan prosesi penciptaanku.
Ucapan selamat untuk sebagian orang mungkin sebuah kelaziman. Tetapi, kelaziman bukan berarti hal yang patut disepelekan kan? Menurutku hadirnya ucapan selamat memiliki konsep konstruksi tersendiri. Tidak terlontar begitu saja, namun dibangun oleh sikap perhatian dan kepedulian. Bagaimana mungkin ucapan terlontar tanpa sebuah ingatan yang didasari sikap perhatian? Dan mustahil bukan sebait doa mampu terpanjatkan tanpa kepedulian? bukankah manusia punya pilihan untuk bersikap apatis terhadap hal hal sepele?

Sangat variatif ucapan dan doa yang ada. tentang kesuksesan, kesehatan, kebahagiaan, lapang rezeki dan jodoh,  umur panjang dll.
Seperti Tahun Sebelumnya, harapan dan kode insinuatif tentang status “kesendirian”ku juga terlontar dari beberapa teman konyol dan pemuja rahasia nan kepo, heheh. Kalo tahun lalu sih masih berbau ejekan standar, nah sekarang insinuasinya asli sok warning, padahal sebenarnya terdengar absurd di telinga dan logika ku.  Bayangkan saja, seorang teman nelepon tengah malam hanya berucap “salamualaikum… mit, pokoknya harusko sadar di usia barumu… besok janganmi traktirka, tp bawakanka cowokmu! Salamualaikum.”  dengan vocalnya yang dimirip miripkan debt collector biar terdengar horor. Lah, antara kesadaran, ulang tahun, dan cowok, korelasinya dimana coba? Pake metode analisis apapun pasti jawabannya tidak bakal saya temukanlah bebs.
Kekonyolan lain hadir dari sirat harapan beberapa teman yang baru saja menjadi Ibu muda.
“selamat ulang tahu tante, semoga …………….” (titik titiknya sengaja disensor).
Yang absurd bukan hanya BBMnya yang seolah diketik oleh si baby. Tapi lanjutan dari kata semoganya itu loh. Yang pada intinya si baby mengungkapkan keinginannya dihadiahi seorang om (you knowlah maksud mereka). Dalam kondisi ini saya melihat ada kecenderungan cikal bakal emak yang otoriter. hehehe. dimana secara sepihak si emak menggunakan hak bicara anaknya yang belum bisa ngomong. Tadinya mau saya adukan ke komnas perlindungan anak, tapi ku urungkan. Kan gak lucu kalau kasus penipuan #mamamintapulsa dan ramai Freeport tentang #papamintasaham tenggelam oleh media gara gara isu #PonakanMintaOm. Hehehe. Bukan salah rezim orba kok bebs, ini hanya kesalahpahaman asa antara ibu muda dan tante muda. Lagian saya tau dibalik sindiran terselubung tersebut, ada harapan yang tersirat. :)
So dengan penuh ketabahan dan keihlasan yang memang gambaran tentang diriku (dilarang protes) kumaklumi kelakuan ibu2 muda itu yang sudah membuat kredibilitasku sebagai tante idaman para ponakan luluh lantah seketika. Toh dengan intuisiku yang handal ini, saya yakin sebenarnya si baby malah mau bilang
“selamat ulang tahun tante, jangan punya cowok dulu yah, tunggu saya besar. mana tau kita jodoh. Aku sayang tante”. hahaha

all events, it makes me feel so a lucky woman. love you all :*

Terlepas dari surat dan sirat pengungkapan ucapan selamatnya yang beraneka ragam, concern yang saya tangkap tidak lain adalah tentang harapan yang didasari oleh kepudulian, perhatian dan kasih sayang. Ditengah tuntutan kesibukan, masih banyak yang menyempatkan sebagian belahan otak kanannya untuk merangkai doa dan harapan di hari jadiku. Sehingga melalui coretanku di sudut malam dan kelelahan ini, rasa terimakasih pantas kudedikasikan buat kamu, dia, kalian dan mereka yang dengan hati tulus mendoa untuk perempuan kerdil ini. yups... perempuan yang tak sesurvive dan setangguh sosok “Kate” dalam film survivor. Terimakasih juga untuk orang orang yang telah ikhlas mengisi kekuranganku dengan kelebihannya, serta menjadikan kelebihanku lepas dari makna kesia siaan.

Syukurku semata untuk Sang Pencipta yang telah meng-ada-kanku, menyempatkanku bergeser dari titik satu ke titik lain menemui kejaiban, mempertemukan dengan sosok sosok yang luar biasa dengan segala kejutan penuh hikmah. Semuanya adalah alur yang membawaku pada keyakinan, bahwa kasih-Nyalah yang akan mewujudkan apa yang kita semogakan kemarin dan seterusnya.
Rasanya saya kehabisan kata untuk mengurai semua perasaan, sampai tidak mengenal batasan rasa antara syukur, bahagia, haru dan entah perasaan apalagi namanya. Tapi bukan berarti ini sebuah kelatahan sikap atau euphoria sesaat yang hanya hadir di moment kelahiranku. Setidaknya, ada penegasan rasa ketika hariku pernah luput dari rasa syukur, terima kasih, bahkan terbelenggu ketidak pedulian yang nyaris merenggut nilai kemanusiaanku.

oh iya, Satu lagi ucapan terimakasih yang tak kalah pentingnya, yakni untuk pihak ANTV yang sudah rela mengeluarkan anggarannya demi menghadirkan ratu jodha tepat di hari ulang tahunku. Hmmm, Padahal saya tidak pernah memberi bocoran mengenai tanggal kelahiranku ke pihak ANTV. Tengkyu bro I’m so excited . hahaha.
Tidak disangka pihak ANTV diam diam memberikan surprise.Semoga ini bukan kode bargaining politik. hehehe.
Sebagaimana saya teringat dan terinsparasi oleh salah satu quote ratu jodha:
“aku memang tidak ingin mengerti apapun tentang politik yang merusak moralku, aku bahagia dengan apa yang ada di diriku.”
Gimana? Aseek gak sikap sok idealisnya saya?  Heheheh

Akhir kata selamat malam bebs, terimakasih dan salam bahagia untuk kita semua. entah yang masih berpijak di bumi ataukah yang telah damai di alam keabadian. :)
Salama’ki, semoga doata berbalas kebaikan.

Jumat, 04 September 2015

OPAK bukan Orientasi Perkenalan Aku dan Kamu


Assalamu alaikum agangs, apa kabar? Ada yang rindukah dengan pencoret yang tidak bermutu ini? hehehe.
Sudah sore tapi di luar keliatannya masih terik, membuat kita yakin jika Indonesia kini tidak seadem Indomaret (bukan iklan). Namun beberapa hari yang terik bin panas ini, tempat yang padat manusia bukan di Indomaret, melainkan gedung gedung yang berlabelkan Universitas dan sejajarannya. Tanya kenapa?

Wadah kaum intelektual sedang ramai pengunjung. Terik dan panas tidak menjadi alasan untuk luput dari rasa bangga atas almamater yang sedang melekat di  tubuhnya. Saya pernah seperti mereka. Dan percayalah… disamping fenomena el nino seiring kemarau panjang, sekarang juga sedang terjadi fenomena kakak2an dan adek2an seiring dengan kehadiran MABA alias MAhasiswa BAru tersebut.
Tapi sebelum nyinggung soal MABA beserta modus modus yang terkandung di dalamnya, saya mau perkenalkan diri dulu deh. Mana tau ada yang pura2 lupa dgn perempuan penganut anti patjaranisme ini (ndak usah dibahas). Juga hitung2 mensosialisasikan pepatah yang sudah disaneering oleh Daeng Maman yang katanya “tak kenal maka ta’arufan”.
Nama saya mita, kadang dipanggil piyo, dan beberapa sebutan lain yang diberikan oleh mereka yang cuek terhadap histori penyembelihan kambing waktu saya berumur 2 minggu. Saya mantan MABA yang unyu unyu beberapa tahun lalu. Mantan MABA dari kampus hijau di kota Makassar. Maaf, bukan maksud menyombongkan diri sebagai manusia yg pernah makan bangku kampus, coretan ini cuma mau mengenang kembali  jaman tante MABA dulu nak. Hehehe. 
Gimana, sudah kenal dengan saya? Berarti sudah sayang dong? :D

Sebagai MABA, ada beberapa prosesi yang harus kita jalani sebagai “takdir rekayasa” yang membudaya. Salah satunya adalah keharusan menjalani masa orientasi yang kebanyakan orang lebih familiar dengan sebutan OSPEK. Belakangan ini beberapa Perguruan Tinggi kabarnya sudah tidak memberlakukannya, mungkin dengan beberapa pertimbangan yang kemudian diamini sebagai kebijakan. Ataukah adanya pergeseran aplikasi yang keliru terhadap tujuan mulia sebuah OSPEK. tapi, kali ini coretanku tidak akan membahas atau memposisikan diriku sebagai garis pro maupun kontra mengenai kebijakan. Terlalu kaku bebs. Toh kacamataku sedang hilang, saya ragu penilaianku akan menimbulkan penilaian kaca mata kuda yang tidak objektif.
Berbicara OSPEK, kalo di kampusku dulu namanya OPAK, singkatan dari Orientasi Pengenalan Akademik. Tapi ada juga yang nakal mengasumsikannya sebagai Orientasi Perkenalan Aku dan Kamu. Nah loh?! Momen ini paling dinanti nanti oleh senior terlebih lagi senior jones yang terancam DO. Heheehe peace….
Sebagian menganggap OPAK sebagai lahan produktif bagi para senior untuk menegaskan eksistensinya sekaligus menyeleksi MABA mana yang akan dijadikan “adek” tanpa harus berhadapan dengan komisi perlindunan anak. Dengan demikian, terjalinlah hubungan kakak2an dan adek2an. 
Sekali lagi saya pernah MABA, tapi saya bukanlah MABA yang termasuk dalam list incaran “adek2an”. Entahlah, mungkin karena saya kurang menarik pada saat itu. Ataukah karena sering bolos OPAK, sehingga kakak senior nyaris tidak sadar kalau ada “adek” manis yang luput dari pandangan. Hahahah.  Maklum, saat itu saya sedang sibuk2nya mengais rejeki sebagai tindakan antispatif jika harga BBM yang selalu linear terhadap harga lainnya mengalami kenaikan.
Ketika OPAK berlangsung, saya lebih senang mengambil barisan paling belakang. sok mengamati karakter MABA  lain yang datang dari berbagai penjuru, sambil diam2 mengagumi beberapa sosok menarik di hadapanku. Kurasa opsi tersebut sudah sangat bijak untuk menghindari kebosanan retorika dan aksi dari beberapa kaum yang mengaku intelek.
Dari hasil pengamatanku, MABA yang masuk list incaran modus adek2an adalah MABA yang paling menonjol dan mendapat pengakuan “cantik” berdasarkan hasil diskusi bisik2 senior. Dalam kondisi ini, definisi cantik tidak lagi bersifat relative melainkan sebuah kesepakatan kakak2an, ibarat permainan issue di bursa saham. Layaknya investor, para kakak pun mengatur strategi untuk melakukan persaingan bebas yang berdampak pada efek monopili sebuah produk, dimana produk tsb  tidak lain adalah si adek. Ketika adek sepakat termiliki, maka dipublikasikanlah dengan tujuan usaha si kakak menjadi go public. Dengan demikian, value si kakak pun menjadi naik ratingnya.
pusingkan dengan uraian coretanku? Yess, akupun. hahaha 

Sederhananya, MABA yang masuk dalam chart  terpopuler adalah mereka yang menjadi incaran oleh banyak senior (jumlahnya melebihi jumlah warna balon dalam lagu ”Balonku”). Dan yah… ketika saya mencoba mengurainya dalam chart, saya menemukan diriku di kolom  degradasi. ohmegat!! deretan paling bawah deh pokoknya. Haruskah saya mempertontonkan atraksi saltoku sekedar mencuri perhatian sekitar? Ah kurasa itu terlalu cepat. 
Tapi tunggu dulu, saya membenarkan bahwa beberapa MABApun sebenarnya senang memberi umpan lambung terhadap senior. MABA juga kadang modus buat curi2 perhatian kok. kadang ada junior yang dikit2 nanya sesuatu (padahal) tidak penting dengan gaya yang dialay2kan, ada juga yang beracting sakit agar bisa  mendapat perhatian, bahkan ada yang pura2 amnesia lupa jalan ke toilet supaya bisa di antar oleh si kakak. Banyak deh modus konyol lainnya. Dalam posisi ini, analogi bursa saham gak cocok buat si adek. Mungkin lebih  cocock jika dianalogikan sebagai produk yang di promosikan melalui  sales door to door. Hehehe.

Tidak sampai disitu investigasi sok tau yang kulakukan. Heheheh.  saat menjadi seniorpun, saya masih iseng mengamati fenomena MABA. Saat itu saya penasaran bagaimana rasanya modusin junior, sekalian mengukur sejauh mana kemampuan saya dalam hal modus memodus dan bagaimanakah  “menariknya” saya di mata mereka. Saya tidak ingin kejadian yang dialami Idolaku; BJ Habibie terulang. Dimana dia kecewa karena Negara baru mengakui kemampuan IQnya yang ternyata melebihi IQ Albert Enstein (yang juga idolaku). Tujuan beliau bukan untuk menyombangkan diri, setidaknya kita bisa mengabarkan pada dunia bahwa Negara mereka tak lebih hebat dari Negara kita. Yes… dialah salah satu idolaku, Beliau muslim tercerdas di dunia! Tokoh dari SULSEL yang diberi gelar “Mr.crack” karena penemuan teorinya.  Presiden ke 3 Indonesia yang berhasil membuat rupiah menguat,  ketika rupiah berkisar Rp. 10.000 – Rp.15.000 justru kepemimpinannyalah  rupiah menguat ke Rp. 6.500/dolar Amerika. nilai yang tidak pernah terjadi lagi sampai saat ini.
Oke lanjut bebs…
bermodal kepolosan, retorika ngasal, dan mimik memelas, saya kemudian menyatakan “perasaan” ke beberapa junior di waktu yang berbeda. Dari uji coba tersebut, alhasil 2 dari 10 junior yang saya tembak itu memberi jawaban yang ngegantung, dan selebihnya menolak bebs… NOLAK??!! OHMEGAAAT!! urutan degradasi lagi kemampuanku? Gila gak tuh??? Saya baru percaya bahwa arti dari masalah adalah ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. That’s problem bebs!!! Tapi okelah, tidak perlu dibahas lebih lanjut analisisnya.  Saya percaya kalian punya interpretasi atas kejadian penolakan tersebut. :D
Sayangnya, momen OPAK saat itu tidak berjalan tuntas. Terjadi gejolak yang entah siapa lawan siapa. Tepatnya 1 september 2010, gemuruh, teriakan,  lelarian, dan rasa panik tercover di kampus peradaban itu. Kampus bergejolak dan mengakibatkan beberapa senior diDrop Out. Momen dimana saya menyaksikan dan merasakan  berhadapan dengan situasi badik takbu’bu. Sekali lagi, saya bukan sejarawan yang tak perlu ragu menulis kejadian. Bagiku sejarah adalah nyata, namun kebenarannya tidak dapat ku pastikan.

Melalui coretan ini, saya tidak berhak memberi saran mengenai eksistensi mahasiswa seutuhnya. toh pada dasarnya saya bukanlah mahasiswa yang baik secara totalitas. entah itu sebagai akademisi, aktivis, maupun  romantisi… hallaaahhh!!! Saya bukan akdemisi tulen, toh saya kadang sukar memahami rumus mata kuliah statistic. saya bukan aktivis hebat, toh saya sering lalai dalam menyuarakan hak rakyat. Saya juga bukan anti hedhonisme, toh saya senang bergaul dengan beberapa teman hedhon yang peduli terhadap sesama. Pun saya bukan mahasiswa gaul,  toh saya lebih sering memesan nasi lombok dibanding produk KFC.
Nikmati, dan lakukan yang terbaik. Kebanggan bukan tentang pengakuan, tetapi kepuasan batin dalam pencapaian kebaikan. berbuat baik itu sederhana, tidak perlu berambisi menjadi yang terbaik dengan menjadikan sekitar tampak buruk. Jika saling menghargai itu asik, kenapa memilih untuk arogan?
Akhir kata bersinergilah wahai mahasiswa, kakak-adek tidak masalah, tapi tujuan kuliah menjadi prioritas!!! Selamat sore dan Selamat memasuki Masyarakat Ekonomi Asean!!