Ulang tahun… berulang tahun, mengulang
tahun… ulang berarti kembali lagi seperti semula …
Saya sempat mencaci kata “ulang
tahun”. mungkin karena saya manusia ambisius yang sok tidak ingin terjebak pd posisi
stagnan yang itu2 saja. Saya tidak ingin
mengulang, saya ingin melalui tanpa harus mengulang.
“Ma terima kasih atas
pemberian kue tart bertingkat yang cantik dan mahal ini.” Kataku pada ibu disaat
membuka mata.
“Pa terima kasih sdh
booking tiket dan hotel luar negeri dihari ulang tahunku ini” kataku pada ayah sambil
meloncat kegirangan dan memeluknya
‘’Sayang, terimakasih
atas surprisenya, aku bahagia!” kataku pada sang kekasih saat bumi telah redup
tergantikan cahaya lilin menyerupai bentuk hati.
Seandainya betul moment seperti itu terjadi pada saat ini. Aku dan kalian
jangan pernah percaya jika ini adalah ulang tahunku. Terang saja…
Aku mengulang tahun kemarin, dimana ibuku tidak pernah
membelikan kue tart bertingkat buatan noni belanda, karena Ibuku lebih lihai
menjahit sobekan bajuku dengan penuh cinta, baju yang senantiasa meneduhkanku
dari terik, melindungiku dari pelecehan.
Aku mengulang tahun kemarin, dimana ayahku tak lagi hadir
memeluk dihari ulangtahun ku, karena kami senantiasa berpelukan dalam do’a. Bukan
hotel yg ingin ia persembahkan, melainkan istana untuk kami, yah… di tempat
yang kekal nan abadi.
Aku mengulang tahun kemarin, dimana tak ada seorang kekasih…
karena yang terkasih bukanlah seseorang, melainkan DIA sang pemilik waktu. DIA yang menghendaki semuanya berulang,
berlanjut, ataukah berakhir.
Hari ini saya berulang tahun, yahh… kata yang terulang
dari dalam hatiku setahun lalu. Semua apa adanya. Mengulang asa yang membatin,
mengulang kata aamiin dari setiap doa ikhlas dari mulut kalian dan mereka agar
diijabah olehNya, mengulang