Bagimu sebuah
lagu adalah jiwa
Dimana keadilan
hadir dalam distorsi nadanya
Kenyamanan
adalah kemerduannya
Dan keindahan
jatuh di setiap makna liriknya
Jika mau,
bukan hal mustahil bagiku untuk lihai memeluk dan memetik gitar
Mendendangkan
lagu pembebasan, pemberontakan dan sesekali membungkam malam bersama lagu romantis
Tapi tetap
saja aku memilih bodoh untuk hal itu
Kau tau
kenapa?
Karena skenarioku
adalah kelak kau yang akan melakukannya untukku
Memperkenalkan
wajah keadilan, rasa kenyamanan dan nikmatnya keindahan
Aku tidak
pandai mencipta lagu
Tapi tenang
saja, bekali aku kertas kosong dan
kubawa pulang
Bersama waktu
akan kurangkai kata demi kata hingga ia berubah bentuk menjadi lirik
Ketika usai,
akan kulipat menyerupai pesawat terbang
Pesawat yang
siap menemui rindu sang lirik yang terpisah
dari nadanya
Sebelum pesawat kertasku mendarat, jangan lupa untuk
berjanji
Berjanji untuk
meniupkan ruh nada pada setiap katanya
Berjanji untuk
mengagumi kejujuran di setiap kalimatnya
Berjanji menjadikannya
karya yang dirimu sendiri menikmatinya
Jangan dipublikasikan,
karena keutuhan liriknya adalah manifestasi keindahanku
Kurasa cukup
itu saja janjimu, aku tidak ingin memberimu peluang untuk mengingkari egoku.
Jika selesai
karya itu, cepat kabari aku…
Jangan terlalu
lama, karena kata orang menunggu itu meresahkan
Saya takut
angin nakal menerbangkan lirikku pada nada yang tidak tepat
Sekiranya lirikku
telah menyatu dengan nadamu, cepat kabari aku
Jangan lupa momentnya
di saat malam yang tidak terlalu larut
Kau tau
kenapa?
Karena malam
selalu saja baik padaku
Malamlah
yang selalu mengajakku bersahabat pada ketakutan
Oh iya… sebelum
aku datang
jangan lupa
sediakan kursi tanpa sandaran di sampingmu
Kau tau
kenapa aku meminta itu?
Aku takut
tidak punya alasan untuk merebahkan
kepala ini di pundakmu
Kepala yang
ingin menyempatkan telinga menikmati lagu kita
Kepala yang
begitu lelah menunggu dan mengintai gerakmu
Ahhh… konyol, skenarioku akankah jadi restu?
Apabila nadamu menguap tinggi menuju langit
bagaimana pesawat kertas ini menggapaimu?
tenang, biarkan
pesawat ini kuubah menjadi perahu kertas untuk ku hanyutkan ke laut
di sana ada nada
ombak mengiringinya sementara waktu
Setidaknya lirikku
masih setia menunggu nadamu berubah menjadi kabut
menunggu kabut
menjadi hujan menetes ke bumi
bumi restu, kita menyatu