Sabtu, 14 Februari 2015

Simbolisme Rasa


Dari kejauhan beberapa ajakan hadir membujuk meriuhkan malam
Namun  kupilih menepi untuk  melukis  sosok  samar  di deretan huruf
Setelah ini, kau boleh mengejekku dengan syarat kau harus yakin jika dirimulah yang kumaksud
Maaf, ini adalah caraku mengajakmu bercakap di dimensi lain
 Tepatnya sabtu malam

Demi menghargai malam, aku telah mengabaikan senja yang sebelumnya ada
Ibarat malam adalah dirimu, dan senja adalah dia beserta beberapa pilihan pilu yang telah berlalu
Maaf kau masih kupermainkan samar, meski pada akhirnya akulah yang dipermainkan ketidak pastian
Dan masih saja aku heran, entah bisikan apa yang menjadikanmu  kepantasan untukku
Aku tidak mengenalmu sangat, tapi aku tak pernah salah menempatkan kekagumanku

Kekasih samar…. Apa kabarmu belakangan ini?
Maaf menanyai kabar, seakan tak pernah kuintai dirimu disudut nyata dan maya
Kau tahu? Dalam kesan  santaiku kusempatkan  senyumi keanehanmu, gerutui keangkuhanmu
Dan kuaminkan setiap apa yang kau semogakan
Diam diam, tak terlihat, tak terdengar…

Kekasih samar… masihkah kau tak sepeka kulit arimu?
Harusnya kau mengerti jika aku tak sepandai “Dan Brown” menyematkan symbol pada tiap kata  
Dan kuakui hingga coretan ini kau baca, lumayan lelah bagiku menghadirkan simbol yang kucipta sendiri
Yahh… Hanya untuk menegaskan samarmu tanpa terbaca pada yang lain
Luput dari pandangan sekitar, termasuk mereka yang mengharap pundaknya terbabani olehku

Sadarlah…  kau begitu tega
Setiap pagi kau membuatku cemburu pada peluk genggaman cangkirmu
Setidaknya kau bisa menantangku meramu 2:1 di cangkir yang kosong seperti hatimu
dan kupastikan setiap seruputannya adalah  pelemahan keangkuhanmu

Kau beruntung diberi rasa oleh perempuan ini
Karena samarmu  yang hendak ku tuju dipersimpangan waktu
Aku rela mengabaikan mereka yang mengucap selamat datang di tepian setia
Tapi awas, jangan sesekali menganggapku perempuan bodoh bila kau tau kenyataan itu

Aku pernah berfikir bahwa kau adalah nadaku yang dirilis ulang oleh Sang Pencipta
Kau tak sama seperti yang pernah ada, tapi samarmu menghadirkan rasa yang sama.
Namun hingga coretan ini kau baca, ada keraguan yang dititip oleh waktu
Terserah, apa kau mau menolongku?
atau selamat bertemu pada penyesalan seperti yang sudah sudah

Senin, 12 Januari 2015

Fenomena Zaman Bacanlitikum


Assalamu alaikum 

Malam bebs, yang tadi nonton Jodha Akbar mana suaranya? Hehehe. Gak usah malu ah bebs. Jujur dari hati yang paling dalam, sebenarnya saya juga senang ngikutin serial jodha akbar. Bukan karena fanatic bollywood ato tertarik dengan kumis raja jalal yah, tapi asli saya tertarik dengan pesan cerita, juga kesan karakter masing2 pemainnya. Kita bisa menempatkan beberapa point of view dalam cerita tersebut .  Sebuah cerita kerajaan yang menggambarkan kompleksitas polemic yang mutlak terjadi dalam sebuah kepemimpinan. Menonton jodha Akbar seakan mengajakku bercakap  tentang arti kekuasaan, penegakan hukum yang semestinya tak pandang bulu, perlawanan dan pertahanan  yang butuh strategi dan sekutu, penegakan keadilan yang selalu berdampingan dengan putusan dilematis, kawan yang sejatinya adalah musuh tak terbaca, eksistensi perempuan, romantisme malu-malu kucing yang berisyarat bahwa cinta itu pengorbanan bukan kemesraan seperti yang disajikan pilem2 abg alay. Nah loh… kok bahas Jodha Akbar sih? nonton sampe ketiduran tadi soalnya bebs. So, sorry yah bebs yang doyan nonton ganteng ganteng seringgila… Uppss

Betewe, Gimana MONsterDAY nya bebs? Sibukkah? Yaudah… kalo sibuk jangan lupa ucap alhamdu?? Lillah (cord). Bersyukurlah karena kita masih diberi kesempatan untuk ber-sibuk-an. Asalkan sibuknya membawa manfaat yah bebs, misalnya sibuk demi sesuap nasi dan sebongkah berlian, kalo gak dapet bongkahan berlian bongkahan batu bacan juga gak papalah. Karena sesungguhnya sesibuk-sibuknya nyari bongkahan batu, jauh lebih mulia dari pada sibuk ngurusin privasi orang lain. Betul ato benar bebs?

Ngomong ngomong soal batu, saya mau berbagi kesan dan cerita sedikit bebs… sedikit sedikit kok cerita? heheh. Tapi sebelumnya maaf yah kalu suara saya agak serak2 becek, soalnya hidung malu-malu mancung ini lagi mengalami kesenjangan sirkulasi oksigen antara sebelah kira dan kanan. Badan lemes  gegara body hot mendayu-dayu (baca: demam disertai batuk). Tapi Kata orang bijak nih yah,  kesulitan/kesakitan itu diciptakan untuk mengetahui siapa yang peduli padamu. Saya sepakat, tadi tiba-tiba salah satu teman saya yang ngakunya alumni fakultas kedok (kedokwa’an) memberi saran yang cukup brilliant setelah tau kondisi saya.  katanya kalo  susah tidur dengan posisi menghadap kiri atau kanan, saya disarankan tidur menghadap yang kuasa biar tenang katanya. Sayang sekali pedulinya overdosis. Jangan ditiru yah bebs, pedulilah sesuai dengan porsinya, jangan berlebihan sebagaimana sabda Rasulullah: "Janganlah kalian berlaku ghuluw (sikap berlebih-lebihan)” :D

Kembali ke soal batu… tak mau kalah dengan saya yang lagi demam batuk, para lelaki saat ini lagi terkena demam batu. Dan saya berani jamin jam selarut ini masih ada yang lagi sibuk dengan batu mulianya. Ckckckc. Gak percaya? Coba deh yang perempuan.. skrng telepon patjar kalian, saya pastikan gak bakalan diangkat. Itu artinya mereka masih sibuk gosokin batu bongkahan dan lebih memprioritaskan batu dari pada kamu makhluk Tuhan yang paling anu bebs. Kalo itu terjadi, gak usah pikir panjanglah, malam ini kalian harus susun kata-kata untuk memutuskan hubungan kalian bentar pagi… kalo bisa momentnya di saat hujan turun biar feel dan soulnya dapet … Hahahaha (semua jomblopun bersorak riang).

Lanjut......
Teringat kata dosen filsafatku dulu tentang sifting paradigm. Dimana pergeseran paradigma akan terjadi dalam siklus kehidupan. Warning bebss!! kayaknya kita sebagai perempuan harus berhati-hati dgn sifting paradigm yang menggerogoti kaum lelaki skarang ini. Bagaimana tidak, mayoritas dari kita tentunya menganggap dan mengakui bahwa sosok perempuan adalah reflleksitas wajah kemuliaan, namun seiring berjalannya waktu, kemuliaan itu kini bergeser pada sosok batu.
Eh tunggu dulu… saat batu menjadi “yang mulia”, apa kabar dengan yang mulia HJ. Najemiah?
Ingatkan bebs,  saat mantan Kapolda (dua periode sebelumnya) dalam sebuah  sambutan, beliau menyematkan kata “mulia” pada sosok Hj. Najemiah dkk atas hibah tanah dan beberapa unit kendaraan operasinal terhadap  pihak kepolisian. Bisa dikatakan saat itu kata “mulia”  mengalami pergeseran makna pada sebuah kekuasaan dan kekayaan materil. Nah, sekarang? Kemuliaan itu disematkan pada batu bebs… batuuu… 

Ini membuat saya penasaran, sehingga diam-diam saya melakukan obesrvasi. Dan alhasil bisa dikatakan 10 dai 7 lelaki yang saya jumpai semuanya bangga memamerkan batu mulia di jidatnya… eh di jarinya maksudku bebs. Mulai dari seukuran upil sampe seukuran biji durian. Di mana-mana semua pada asik membahas batu. Ekstrimnya lagi, kemarin pas mo ngampus tanpa sengaja  saya melihat beberapa orang yang serius  mengais ngais batu kerikil yang berserakan di pinggir aspal, tangan kirinya terlihat menggengam beberapa batu hasil seleksinya. Tadinya sih niat mau nanya2 sekedar basa basi busuk pengen tahu batu apa yang dicarinya... Tapi ku urungkan,  jalan macet akibat cara markir motornya aja dia abaikan apalagi saya. Pikirku… lagian sudah bisa ditebak kok, batu yang dia cari gak mungkin batu tawas apalagi batu ginjal kan?

Jika ditinjau kacamata minus saya berdasarkan hasil observasi tersebut, saya bisa menarik ulur kesimpulan  bahwa saat ini  manusia cenderung kembali pada zaman batu. Lah, apakah ini berarti kita mengalami fase kemunduran? ibarat kata kita kembali  menjadi spesies phitecontrhopus erectus dongs bebs?? Kalo dulu dikenal dengan zaman paleolitikum (batu tua) atau mesolitikum (batu muda), nah sekarang mungkin namanya zaman Bacanlitikum (batu mulia), dimana semua pada berpindah-pindah tempat untuk mencari bongkahan batu bacan. heheheh. Ah entahlah bebs…

Terlepas dari pikiranku yang ngasal ini, bukan maksud saya untuk menyudutkan atau meng-ofside-kan pemaknaan sebuah perempuan, batu, dan kemuliaan. Hehehe. Ini hanyalah coretan kasar dari pemikiran standar yang mulai melemah terisap pekat malam. Yahh… Kasat mulia adalah tentang persepsi, olehnya muliakanlah sebuah kepantasan.  Memuliakan bukan berarti menghamba kan bebs?. Yups… I think so, yang penting tetap pada porsinya. :D
Sekedar bocoran, saya juga punya beberapa koleksi batu permata kok bebs, bacan, akik, dan satu lagi warna hitam gak tau apa namanya. hehehe
Udah dulu yah bebs, maap kalo ada salah kate karena sesunggungnya kate tak salah apa2. eh nitip salam dong buat dia yang entah siapa,  berharap suatu saat dia dan saya akan saling memuliakan.  :*

Sdh jam 2 rupanya, yang niat sahur… selamat bersantap yah bebs. Eike take a rest dulu. Akhir kata,  meski gula mengalami kenaikan tetap sweet dream yeahh!
Wassalam alaikum warahmatullah…

Rabu, 31 Desember 2014

Selamat Ulang Tahun Bumiku


Asslamu alaikum…

Alhamdulillah kita telah beranjak dari Tahun 2014. Seiring dengan itu pula masing-masing dari kita mengutarakan, menselatankan, menimurkan dan membaratkan setangkup harapan di atas bumi ini, hehehe. Harapan yang terus berulang dari tahun ke tahun. Ada kesyukuran dan ada penyesalan.

Bumi telah memasuki usia 2015 terhitung sejak manusia mengenal penanggalan Masehi. Bukan waktu yang sebentar, meski kita tidak sepenuhnya menjadi saksi sejarah sepanjang usia tersebut. Yah, saya dan kamu hanya khalifah penerima tongkat estafet dari penghuni2 sebelumnya dan insyaAllah kelak mengamanahkan tongkat tersebut ke generasi selanjutnya.

365 hari dalam setahun bukan waktu singkat untuk melakoni peran kita , ada yang tersimpan dan ada yang terlupakan. Dan hari ini kita kembali   mengulang ritual Tahun baru dengan cara kita masing-masing. Mencoba menapak tilas perbuatan, keangkuhan, kenakalan, kekonyolan, tangisan, teriakan, kesepian, gurauan, pemberontakan, kepasrahan, yang ter-frame dalam setiap jejak.

Di usianya yang ke 2015 apakah bumiku kian menua? Iyya… bumiku kian menua, namun lucunya yang pikun malah para penghuninya. Cenderung lupa pada Tuhan, lupa pada sesama, pada budak, pada punggawa, pada udara, pada matahari, pada bulan, pada tanah, pada air, dan lupa jika ia sering menolak lupa. 
Maaf kami sedang lupa karena sedang dicumbu waktu. Kami sedang lupa jika ritual seperti ini hanyalah syndrome efek semalam. Padahal kami tau jika pergeseran waktulah penyebab pergeseran lempengan2 di bawah laut, siap memuntahkan gelombang dahsyat kapanpun itu sperti kemarin yg telah menyisakan efek traumatis pasca tsunami 26 Desember 2004. Kemarin kami sempat mengingat, tapi maaf jika malam ini kembali lupa dan hanya tersadar pada moment tertentu dengan ucapan kalimat sederhana tanpa tindakan. Yaahh seperti pada coretanku ini.

Apakah bumiku sudah sakit sakitan? Iyya bumiku sedang sakit, tp maaf malam ini penghunimu lagi sibuk memainkan petasan, mengguncang tubuhmu dan mengotori paru-parumu dengan asap asap harapan. yaahhh mungkin ini candu budaya kami tiap tahunnya, seperti candu pada rokok, pada kopi, pada music, pada mie instan dan hal menarik lain yang kami sendiri lupa akan unsur negatif yang ada. 

Apakah bumiku telah rapuh? Iyya, fisik bumiku mulai merapuh. Sana sini terjadi kerusakan alami dan kesengajaan.  Banjir manado, longsor banjar negara, jatuhnya airAsia dan lain lain. Lebih parahnya lagi jiwa penghuninya ikut-ikutan merapuh. Berdebat atas nama rakyat, mempertontonkan kemiskinan di reality show hanya untuk sebuah rating siaran, penjarahan baik secara terang2an oleh geng motor hingga perampokan dgn gaya elegan dibalik  kebijakan penguasa.  Dan banyak lagi keunikan perilaku kami diluar ambang moral, lucu sekaligus menyedihkan. Ada apa ini? Ahh… untuk malam ini, bumiku mungkin lelah mengingatkan hingga hujanpun ikutan diam dan berhenti. 

Tapi wahai bumiku…  kami membutuhkanmu hari esok dan seterusnya. Teruslah kuat meski kami makin beringas dan kejam. Tetaplah tabah karena kami makin angkuh dan apatis. Tetaplah jadi pijakan kami, karena kami butuh media refleksi untuk tetap tawaduk di hadapan Sang Pencipta. Kami butuh alam sebagai taswir keindahan yang telah diberikan Sang Pengasih. Kami butuh ruang untuk mengukur sesuatu yang tak dapat kami jangkau dengan mata kami. Yaahh Kami butuh kamu untuk menebar cinta. Dan yakinlah wahai bumi, masih ada penghunimu yang peduli dan rela berjuang terinjak mati mempertahankanmu.

Semangat Ulang Tahun Baru Bumiku. Panjang umur dan berjayalah. Semoga menjadi semangat baru bagi kami penghunimu, dan semoga kita semua senantiasa dalam Lindungan-Nya. Bismillahirrahmanirrahim.

Wassalam

Senin, 22 Desember 2014

Hari Ibu, Bukan Kegilaan


Assalamu alaikum :) 
Malam bebbs…. makin manis aja nih gue, kalo kamu?? Semoga  sama yah… kalopun tidak mampu menyamai  sweet face-ku, setidaknya malam ini saya dan kamu memiliki kadar kegila-an yang sama yah bebs (sambil nyayi’in lagunya Andrew Garcia  I'm not crazy, I'm just a girl, I'm doing everything that I can. Jreng  jreeeeenggg). 
Sorry agak nyombong bebs, mungkin bidikan doktrin tentang perlunya meninggi pada moment-moment tertentu tepat sasaran ke otak ini bebs (nunjuk dengkul).  Untuk malam ini, menurutku kalimat dan gaya pembuka dalam coretan ini mesti meninggi dikit meskipun ibarat kata saya sedang berada di bawah permukaan laut semenanjung arab di dekat laut mati,  yang konon kabarnya secara geografis di sanalah tempat terendah yang ada di bumi. Hmm, yah bisa dibilang gaya meninggi itu strategi agar kalian tertarik menengok coretan ini. tapi tenang saja, orangnya asli low profile kok, gak sombong, anti todong-menodong,  suka makan kedondong dan naik odong-odong.  Hahaha.
Badai wehh (red: ngomong-ngomong), jangan tersinggung yah bebss kalo saya menyempatkan diri nyinggung kegilaan kalian. Saya sih berharap ada kebanggan tersenidiri dengan sisi kegilaan yang kita punya. Coba pikir… salah satu tokoh Jenius Thomas Alva Edison yang di droup out karena kebodohan pertanyaannya, dan yang lebih menyedihkan lagi pemikiran dan gaya hidupnya dianggap gila oleh orang-orang sekitarnya. Namun siapa sangka karena pertanyaan bodoh dan pemikiran gilanyalah kita bisa hidup dan bisa bertemu terang di saat malam menyembunyikan matahari.
Dibalik perilakunya yang dinilai tidak lazim sebagai orang normal, ada seorang yang selalu mendorong dan memberinya semangat hingga ia bisa membuktikan kepada dunia bahwa dibalik kegilaannya itu ia bisa menciptakan sebuah karya yang luar biasa bernilainya sepanjang masa. Siapakah orang itu? Yup, ia adalah seorang ibu. Dalam sebuah tulisan, Thomas berkata “ibukulah yang telah menjadikan ku seperti ini. Beliaulah yang menghormati dan mempercayai aku. Baginya, aku adalah yang paling berharga di dunia ini. Aku ada karena beliau ada. …….” (maaf gak hapal  seluruhnya bebbs :( ). Intinya, beliau begitu menghargai dan menghormati pengorbanan dan kasih saying seorang ibu dalam pencapaian hidupnya.

nahh berbicara tentang Ibu,  hari ini Indonesia beserta isinya sedang memperingati hari ibu. Hari dimana penghargaan dan penghormatan bagi  IBU menjadi seruan kompak dari sabang sampai marauke. Yang lucunya di tengah eufhoria itu, masih saja sebagian dari kita memandang sinis cara dan gaya  pernyataan selamat kepada seorang Ibu. Hehehe. Gak heran sih, Indonesia gitu loh, semua bisa jadi perdebatan. Masih mending kalo perdebatan itu diniatkan sebagai hal positif untuk sebuah kebenaran. Nah kalo cuman mencari mana yang hebat dan mana yang menang dengan mempersalahkan dan nyindir orang lain? Dibilang gila juga kagak, nanti Idolaku Thomas A. Edison malah tersinggung lagi. :D
Penghargaan akan pengorbanan, ketulusan, kasih sayang dan sebagainya dari seorang ibu semestinya bukan di moment ini saja, saya pribadi sangat setuju dengan itu bebh. Tapi, bukan berarti kita harus sinis menanggapi orang lain yang coba mengingat dan mengutarakan penghargaannya di Media social kan?. Bahkan ada yang nyeletuk, jika orang yang memperingati hari ibu di moment ini hanya latah, sok perhatian, bahkan dinilai hanya sebatas kata selamat saja, bukan tindakan. Wets,  hebat yah..  bisa tau niat dan kelakuan orang yang tidak disaksikan secara langsung, orang itu pasti sanro (baca:dukun). Terlepas dari latah dan eufhoria kata selamat hari Ibu, harusnya kita bisa melihat dan memaknai moment ini. Bagaimana berartinya sosok “IBU” / “Perempuan”,  saking berartinya Negarapun menetapkannya sbg hari nasional untuk mengingat dan merenungkan eksistensinya.  Tepatnya tanggal 22 Desember,  tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno  di ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia pada Tahun 1928. Santernya sih tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat Perempuan Indonesia juga untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Yang berarti hari ini semua perempuan berhak merasakan semangat hari ibu, termasuk saya ini bebs. Iyyaa… saya kan calon ibu juga? Hehehe. 

Oke bebh, melalui coretan ini… saya mau berterimakasih buat IBU-IBU yang begitu berjasa (jangan disinisi apalagi dia alay-in yahh bebsss :p)

Untuk Ibuku, yang sebenarnya dalam keseharian saya memanggilnya mama’... Terimakasih, atas kreasi tattoo kerennya di punggungku tiap saya masuk angin, trimakasih daun jaraknya tiap saya menyembunyikan rasa mual di lambungku, terimakasih jahitan pada sobekan bajuku yang membuatku terlindungi dari terik dan pelecehan, terimakasih mau menerimaku dalam berbagai kondisi, terimakasih atas pemberian maaf ditiap kenakalan dan pembangkanganku, terimakasih atas air mata harapannya, terimakasih atas doa yang tak pernah putus, terimakasih untuk segalanya :) :*

Juga terima kasih untuk Ibu-Ibu dan perempuan-perempuan hebat yang ada…
Terimakasih untuk Ibu penjual Koran, Ibu Petani, Ibu Nelayan, Ibu di tepi Jalan, seluruh Ibu dan perempuan-perempuan hebat tanpa terkecuali…
Sampaikan Salamku pada si “Bapak” yang begitu tampak gagah mendapat pendampingan oleh sosokmu, sampaikan rasa banggaku pada si “ anak”  yang begitu beruntung lahir dan besar dalam belaianmu.
Oh iyya terima kasih juga buat bebss bebbss yang sempat menengok coretan tanpa makna ini, heheh. Udah dulu yah, mo lanjut nikmatin isapan sebatang nihhh (coki-coki). J
Yang merindu, jangan sungkan saya tunggu di mimpi yahh bebs :D