Jumat, 03 April 2015

Ditinggal Kawin

Assalamu alaikum, apakabar temans?
Di Makassar… Jumat kali ini hujan, sama seperti jumat kemarin. Hujannya pun sama seperti hujan kemarin, yang jatuh dari langit masih berupa butiran air bukan bidadari. Oh iya bagaimana yang sudah jumatan tadi? Nampak lebih mudah 10 detik gak? Kalo tidak, maka yakinlah kalian tidak memakai cream anti aging tadi.

Oh iyya bebs, kalian tau tidak rasa air yang diturunkan dari langit barusan? Bukan tawar, manis, asin atau asam. Melainkan rasa sendu. Tau sendu kan? Iya, itu tuh temannya garpu.  Hehehe.
Sebenarnya ini sendu2 bahagia…
Tidak pernah merasakan sendu sendu bahagia bebs? Kodong banget yah kamu? 
Nah rasanya itu bisa dianalogikan seperti saat kita ke supermarket buat beli deterjen yang dikemasannya tertulis “berhadiah piring cantik”, pas sampai di loket pengambilan hadiah, piring cantiknya malah habis, mau diganti piring ganteng juga gak ada. Dan akhirnya pihak supermarket mengganti piring cantiknya menjadi 1 unit rumah mewah plus bisa nikahin penghuninya. Hahaha . Nah kira kira kurang lebih seperti itulah perasaan sendu sendu bahagia.

Apa gerangan yang membuat saya sendu sendu bahagia?
Jadi begini, semuanya berawal dari kesottakan (baca: sok tau). 
Macam konsultan romantisme gitu, saya biasanya bersikap sok memberi wejangan ketika sahabat saya mengalami konflik asmara.  Dan hingga saat ini pun masih banyak teman yang bersedia sharing masalah romantismenya. Bahkan ada yang nekat bawa ayam kampong 3 warna, tapi saya tolak mentah mentah. Bukannya takut dituduh gratifikasi, tapi  karena saya tidak mau yang mentah mentah saya mau yang sudah digoreng. hehehe.
Entahlah sayapun heran atas kepercayaan dan kesediaan mereka berbagi kisahnya, Padahal basicly saya tidak begitu paham tentang romantisme dan semacamnya. Atau mungkin karena sebagian dari mereka menilai saya tidak pernah mengeluh dan terlihat bermasalah dalam bidang romantisme sehingga mempercayakan saya sebagai orang yang bisa diandalkan. Hhehehe. 
Bagaimana mau bermasalah? secara saya ini masih polos dan memang belum mengerti tentang itu.

Tapi, saat itu saya yakin dengan prinsip saya bahwa ada kalanya kesottakan itu diperlukan sebagai starter senyuman dan tombol off kesedihan atas orang orang disekelilingmu. Yups, metode sotta sotta berhadiah memang diperlukan untuk membentuk standar deviasi  gurat senyum yang terkekang. Maka lakukanlah. Hehehhe.

Ketika mereview kesottakan yang pernah saya lakukan. Saya tersadar bahwa tidak semua kesottakan itu hanya menyisakan kebohongan, tetapi juga tidak jarang melahirkan sebuah kebenaran meskipun melalui peristiwa kebetulan. Mungkin saja kesottakan saya yang InsyaAllah berniat baik saat itu diamini oleh hati mereka yang selalu berharap pada kebaikan pula.

Kurang lebih 5 tahun lalu misalnya, saat itu saya dan teman saya (namanya acha) sharing tentang someone nya dia. Dan dengan kesottakan saya itu, saya bilang ke dia “eh bebs, kenapa saya yakin sekali kalo kaka itu jodohta?” Mungkin pada saat itu acha sendiri mengamini dalam hati, entahlah. Percakapan selanjutnya pun saya lupa, mungkin topik percakapan kami beralih ke goyang cayya2 briptu norman kamaru setelah itu.  
Alhamdulillah, siapa sangka kesottakan saya diijabah dan terbukti. Sekarang acha dan someonenya sudah mebentuk keluarga baru dan sebentar lagi akan dilengkapi dengan tangisan bayi. :)

Singkat cerita, ada moment dimana saya kembali menyottakkan diri dihadapan teman saya yang satu lagi (sebut saja namanya i sitti). Saat itu sitti lagi galau, susah tidur, bibir pecah pecah karena habis putus sama si doi. Dalam satu ranjang, diapun berkisah tentang beberapa someone dan “kakak”nya kepadaku. Maklum, berhubung saya ini orangnya perasa… akhirnya kuhapus airmatanya, ku lap ingu*nya lalu kukatakan  “kalo saya terawang lebih dalam kayaknya kaka anu ji itu jodohta”. Dengan gaya becanda. Sumpah bebs, saya tidak berniat menjadi peramal atau mendahului kehendak yang telah mengatur, pure ini murni hanya keisengan dan kesottakan saya.

Dan Alhamdulillah, akhirnya malam ini menjadi malam terakhir status gadis melekat di diri SITTI. Malam ini sitti telah mendahului mereka yang masih single untuk mengikat janji suci.
Nah, kesottakan saya membawa berkah kan bebs? Ayo selanjutnya siapa yang mau saya sottaki lagi supaya cepat nyusul…. Heheheh. Pendaftran terbatas loh.

Melalui coretan ini saya mohon maaf kepada teman2 utamanya si Sitti, tidak bisa ikutan berselfie dan menyaksikan ijab qabulnya, karena sesuatu dan lain hal diluar dugaan dan rencana .  
Tapi tenang saja doaku menyertaimu beb :*
Selamat buat sitti, semoga menjadi keluarga SAMAWA. Jadi istri yang baik, penurut, penyayang, pengingat, pemelihara. Semoga berhasil dunia akhirat dalam membina keluarga barunya.

Oh iya saya juga tadi sempat ikut milih kado sama anak2, hehehe. Saya yang milih warnanya loh. J

Tapi tau ndak? habis dari beli kado itu… si janggo’, nizar, atika, lia dan dewi, kemudian menurunkan saya di pinggir jalan berbekal satu stick ice cream. Tega kannn?!  Sudah ditinggal kawin diturunin dipinggir jalan lagi bebh L.


Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui!¨
(Qs. Yaa Siin (36) : 36)

Kamis, 19 Maret 2015

Menolak Ingat


Assalamualaikum….
Semangat siang bebs, semoga berkah dan bahagia menyertai kita semua.
Seperti biasa, kalo otak lagi heng ngedit naskah yang sejatinya tidak linear dengan bidang keilmuan(ku), pilihan ketiga setelah ngemut coki2 dan memandangi batu bacanku, yah ngunjungi blog ini. Di sini saya bisa nyorat nyoret ngasal tanpa harus meremas kertas jika sekiranya tidak sesuai dengan aturan EYD (Ejaan Yang Dilebay lebaykan). Halllaahhh…

Lama tidak berkunjung ke blog ini, takutnya jadi lumutan dan jamuran karena sudah lama dibiarin kosong, mirip hatimu bebs. Hehehe.
Anyway, mungkin ini kali pertama saya mengunjungi blogku disiang hari, biasanya sih disaat malam. Sehingga pembahasannya yah paling sekitar ratapan ratapan rindu dari para responden jones. Ahhaii.

Hmmm… sebenarnya gak ada hal penting sih pembahasan coretan kali ini, cuman mau mengingatkan kalo ini hari jumat, besoknya hari sabtu dan lusa hari minggu, selasa, rabu, kamis, dan kembali ke jumat. Hehehe. Gak pentingkan?
Tapi ceritanya jadi penting kalo menyangkut kamu (nama disamarkan). Yups sdh kubilang kan?, saya selalu memantaumu di sudut nyata dan maya. Jadi jangan nakal. Jika tidak, berarti kamu tidak nakal. Hahaha. Apasihhh.

Melalui coretan ini, ada beberapa catatan yang ingin kutitip khusus pada si samar, jd maaf yah bebs kalian saya kantongin dulu di coretan ini. heheheh peace.
Eh kamu yang samar… tenang saja ini bukan catatan kredit, atau catatan hapalan rumus fisika, juga bukan catatan merah dari KPK mengenai track rekordmu. Yah bisa dibilang ini ultimatum mesra yang ingin kudedikasikan buat kamu. Lancangkan?? Hehehe.
Jadi, perhatikan sedetail mungkin, hayati dan perankan karena ini penting dan tidak akan kamu dapati pada NAWA CITA Bpk. Jokowidodo.

Intinya adalah jangan ada “menolak ingat” diantara kita. Adapun isi point sebagai berikut:
1.       Jangan lupa kalo kamu itu manusia
2.       Jangan lupa kalo kamu itu lakilaki
3.       Karena kamu lakilaki… maka jangan lupa kewajiban untuk shalat jumat
4.       Shalat jumatnya jangan lupa di Masjid dan menghadap kiblat
5.       Jangan bahas batu kalo khatib lagi ceramah
6.       Jangan lupa sedekah, tapi kalo kantongmu kosong, yaudah… ada kata bijak yang mengatakan “senyum itu sedekah”. Nah senyum saja ke kotak amalnya. heheh
7.       Nah yang paling penting, jangan lupakan orang terkasihmu setelahnya. Doakan mereka. Doakan Negara kita. Doakan pemimpin kita. Dan jika sempat, yah itupun jika kau tak malu pada Tuhan, doakan Aku… selipkan Aku ditiap harapanmu. 
Nah itu saja, lagian adzan sudah berkumandang, berjalanlah dengan gagah dibalik nyatamu yang kusamarkan. Eehh, tunggu dulu, kopiahnya miring, sini saya rapikan. Hehehhe.

Oh iyya, besok sabtu malam, jangan hiraukan kemacetan dan ritual satnite yang lebay di luar sana. Bukankah kita tidak pernah sepakat untuk melakukan ritual satnite? Yah selama ini diam diam kita hanya merindu, karena rindu tidak butuh kesepakatan dan kode etik. Tenang saja buaya dan cicak tidak akan marah, karena yang direpotkan hanyalah masing2 dari kita yang merindu.

Lagian kita bukan seperti mereka yang mengagungkan ritual macam itu, merugikan pemerintah, menambah kemacetan, dan menambah polusi udara yang hanya menyakiti paru2 alam. hehehe (padahal dalih).
Maaf jika tak sempat meng’kode kabar esok malam, soalnya sebentar sore saya dan teman berencana  take the road  ke kaki gunung, menyeruput kopi bersama masyrakat yang ramah di sana. yah lingkup yang terlepas dari tendensi. oh iyya, di sana gak ada sinyal, jadi maaf membuatmu merindu untuk sementara waktu.
Tapi tenang saja, setiap seruputan kopi, adalah aroma rindu yang menggantung di langit2 hidung. Setelah terteguk, aromanya hilang tapi semakin mendekat, di NADIku mungkin. 
Itu saja yah saya mo prepare rong... heheh

Nah buat bebs2ku, jangan cemburu ke si samar yah bebs? bukan salah dia kok, dia hanya beruntung.
Wassalam.

Teringat quote Sujiwo Tedjo  “adakah yang lebih romatis dari suara gesekan sandal ke aspal dan kibar suara sarung oleh laki laki menuju jumatan?”

Sabtu, 14 Februari 2015

Simbolisme Rasa


Dari kejauhan beberapa ajakan hadir membujuk meriuhkan malam
Namun  kupilih menepi untuk  melukis  sosok  samar  di deretan huruf
Setelah ini, kau boleh mengejekku dengan syarat kau harus yakin jika dirimulah yang kumaksud
Maaf, ini adalah caraku mengajakmu bercakap di dimensi lain
 Tepatnya sabtu malam

Demi menghargai malam, aku telah mengabaikan senja yang sebelumnya ada
Ibarat malam adalah dirimu, dan senja adalah dia beserta beberapa pilihan pilu yang telah berlalu
Maaf kau masih kupermainkan samar, meski pada akhirnya akulah yang dipermainkan ketidak pastian
Dan masih saja aku heran, entah bisikan apa yang menjadikanmu  kepantasan untukku
Aku tidak mengenalmu sangat, tapi aku tak pernah salah menempatkan kekagumanku

Kekasih samar…. Apa kabarmu belakangan ini?
Maaf menanyai kabar, seakan tak pernah kuintai dirimu disudut nyata dan maya
Kau tahu? Dalam kesan  santaiku kusempatkan  senyumi keanehanmu, gerutui keangkuhanmu
Dan kuaminkan setiap apa yang kau semogakan
Diam diam, tak terlihat, tak terdengar…

Kekasih samar… masihkah kau tak sepeka kulit arimu?
Harusnya kau mengerti jika aku tak sepandai “Dan Brown” menyematkan symbol pada tiap kata  
Dan kuakui hingga coretan ini kau baca, lumayan lelah bagiku menghadirkan simbol yang kucipta sendiri
Yahh… Hanya untuk menegaskan samarmu tanpa terbaca pada yang lain
Luput dari pandangan sekitar, termasuk mereka yang mengharap pundaknya terbabani olehku

Sadarlah…  kau begitu tega
Setiap pagi kau membuatku cemburu pada peluk genggaman cangkirmu
Setidaknya kau bisa menantangku meramu 2:1 di cangkir yang kosong seperti hatimu
dan kupastikan setiap seruputannya adalah  pelemahan keangkuhanmu

Kau beruntung diberi rasa oleh perempuan ini
Karena samarmu  yang hendak ku tuju dipersimpangan waktu
Aku rela mengabaikan mereka yang mengucap selamat datang di tepian setia
Tapi awas, jangan sesekali menganggapku perempuan bodoh bila kau tau kenyataan itu

Aku pernah berfikir bahwa kau adalah nadaku yang dirilis ulang oleh Sang Pencipta
Kau tak sama seperti yang pernah ada, tapi samarmu menghadirkan rasa yang sama.
Namun hingga coretan ini kau baca, ada keraguan yang dititip oleh waktu
Terserah, apa kau mau menolongku?
atau selamat bertemu pada penyesalan seperti yang sudah sudah

Senin, 12 Januari 2015

Fenomena Zaman Bacanlitikum


Assalamu alaikum 

Malam bebs, yang tadi nonton Jodha Akbar mana suaranya? Hehehe. Gak usah malu ah bebs. Jujur dari hati yang paling dalam, sebenarnya saya juga senang ngikutin serial jodha akbar. Bukan karena fanatic bollywood ato tertarik dengan kumis raja jalal yah, tapi asli saya tertarik dengan pesan cerita, juga kesan karakter masing2 pemainnya. Kita bisa menempatkan beberapa point of view dalam cerita tersebut .  Sebuah cerita kerajaan yang menggambarkan kompleksitas polemic yang mutlak terjadi dalam sebuah kepemimpinan. Menonton jodha Akbar seakan mengajakku bercakap  tentang arti kekuasaan, penegakan hukum yang semestinya tak pandang bulu, perlawanan dan pertahanan  yang butuh strategi dan sekutu, penegakan keadilan yang selalu berdampingan dengan putusan dilematis, kawan yang sejatinya adalah musuh tak terbaca, eksistensi perempuan, romantisme malu-malu kucing yang berisyarat bahwa cinta itu pengorbanan bukan kemesraan seperti yang disajikan pilem2 abg alay. Nah loh… kok bahas Jodha Akbar sih? nonton sampe ketiduran tadi soalnya bebs. So, sorry yah bebs yang doyan nonton ganteng ganteng seringgila… Uppss

Betewe, Gimana MONsterDAY nya bebs? Sibukkah? Yaudah… kalo sibuk jangan lupa ucap alhamdu?? Lillah (cord). Bersyukurlah karena kita masih diberi kesempatan untuk ber-sibuk-an. Asalkan sibuknya membawa manfaat yah bebs, misalnya sibuk demi sesuap nasi dan sebongkah berlian, kalo gak dapet bongkahan berlian bongkahan batu bacan juga gak papalah. Karena sesungguhnya sesibuk-sibuknya nyari bongkahan batu, jauh lebih mulia dari pada sibuk ngurusin privasi orang lain. Betul ato benar bebs?

Ngomong ngomong soal batu, saya mau berbagi kesan dan cerita sedikit bebs… sedikit sedikit kok cerita? heheh. Tapi sebelumnya maaf yah kalu suara saya agak serak2 becek, soalnya hidung malu-malu mancung ini lagi mengalami kesenjangan sirkulasi oksigen antara sebelah kira dan kanan. Badan lemes  gegara body hot mendayu-dayu (baca: demam disertai batuk). Tapi Kata orang bijak nih yah,  kesulitan/kesakitan itu diciptakan untuk mengetahui siapa yang peduli padamu. Saya sepakat, tadi tiba-tiba salah satu teman saya yang ngakunya alumni fakultas kedok (kedokwa’an) memberi saran yang cukup brilliant setelah tau kondisi saya.  katanya kalo  susah tidur dengan posisi menghadap kiri atau kanan, saya disarankan tidur menghadap yang kuasa biar tenang katanya. Sayang sekali pedulinya overdosis. Jangan ditiru yah bebs, pedulilah sesuai dengan porsinya, jangan berlebihan sebagaimana sabda Rasulullah: "Janganlah kalian berlaku ghuluw (sikap berlebih-lebihan)” :D

Kembali ke soal batu… tak mau kalah dengan saya yang lagi demam batuk, para lelaki saat ini lagi terkena demam batu. Dan saya berani jamin jam selarut ini masih ada yang lagi sibuk dengan batu mulianya. Ckckckc. Gak percaya? Coba deh yang perempuan.. skrng telepon patjar kalian, saya pastikan gak bakalan diangkat. Itu artinya mereka masih sibuk gosokin batu bongkahan dan lebih memprioritaskan batu dari pada kamu makhluk Tuhan yang paling anu bebs. Kalo itu terjadi, gak usah pikir panjanglah, malam ini kalian harus susun kata-kata untuk memutuskan hubungan kalian bentar pagi… kalo bisa momentnya di saat hujan turun biar feel dan soulnya dapet … Hahahaha (semua jomblopun bersorak riang).

Lanjut......
Teringat kata dosen filsafatku dulu tentang sifting paradigm. Dimana pergeseran paradigma akan terjadi dalam siklus kehidupan. Warning bebss!! kayaknya kita sebagai perempuan harus berhati-hati dgn sifting paradigm yang menggerogoti kaum lelaki skarang ini. Bagaimana tidak, mayoritas dari kita tentunya menganggap dan mengakui bahwa sosok perempuan adalah reflleksitas wajah kemuliaan, namun seiring berjalannya waktu, kemuliaan itu kini bergeser pada sosok batu.
Eh tunggu dulu… saat batu menjadi “yang mulia”, apa kabar dengan yang mulia HJ. Najemiah?
Ingatkan bebs,  saat mantan Kapolda (dua periode sebelumnya) dalam sebuah  sambutan, beliau menyematkan kata “mulia” pada sosok Hj. Najemiah dkk atas hibah tanah dan beberapa unit kendaraan operasinal terhadap  pihak kepolisian. Bisa dikatakan saat itu kata “mulia”  mengalami pergeseran makna pada sebuah kekuasaan dan kekayaan materil. Nah, sekarang? Kemuliaan itu disematkan pada batu bebs… batuuu… 

Ini membuat saya penasaran, sehingga diam-diam saya melakukan obesrvasi. Dan alhasil bisa dikatakan 10 dai 7 lelaki yang saya jumpai semuanya bangga memamerkan batu mulia di jidatnya… eh di jarinya maksudku bebs. Mulai dari seukuran upil sampe seukuran biji durian. Di mana-mana semua pada asik membahas batu. Ekstrimnya lagi, kemarin pas mo ngampus tanpa sengaja  saya melihat beberapa orang yang serius  mengais ngais batu kerikil yang berserakan di pinggir aspal, tangan kirinya terlihat menggengam beberapa batu hasil seleksinya. Tadinya sih niat mau nanya2 sekedar basa basi busuk pengen tahu batu apa yang dicarinya... Tapi ku urungkan,  jalan macet akibat cara markir motornya aja dia abaikan apalagi saya. Pikirku… lagian sudah bisa ditebak kok, batu yang dia cari gak mungkin batu tawas apalagi batu ginjal kan?

Jika ditinjau kacamata minus saya berdasarkan hasil observasi tersebut, saya bisa menarik ulur kesimpulan  bahwa saat ini  manusia cenderung kembali pada zaman batu. Lah, apakah ini berarti kita mengalami fase kemunduran? ibarat kata kita kembali  menjadi spesies phitecontrhopus erectus dongs bebs?? Kalo dulu dikenal dengan zaman paleolitikum (batu tua) atau mesolitikum (batu muda), nah sekarang mungkin namanya zaman Bacanlitikum (batu mulia), dimana semua pada berpindah-pindah tempat untuk mencari bongkahan batu bacan. heheheh. Ah entahlah bebs…

Terlepas dari pikiranku yang ngasal ini, bukan maksud saya untuk menyudutkan atau meng-ofside-kan pemaknaan sebuah perempuan, batu, dan kemuliaan. Hehehe. Ini hanyalah coretan kasar dari pemikiran standar yang mulai melemah terisap pekat malam. Yahh… Kasat mulia adalah tentang persepsi, olehnya muliakanlah sebuah kepantasan.  Memuliakan bukan berarti menghamba kan bebs?. Yups… I think so, yang penting tetap pada porsinya. :D
Sekedar bocoran, saya juga punya beberapa koleksi batu permata kok bebs, bacan, akik, dan satu lagi warna hitam gak tau apa namanya. hehehe
Udah dulu yah bebs, maap kalo ada salah kate karena sesunggungnya kate tak salah apa2. eh nitip salam dong buat dia yang entah siapa,  berharap suatu saat dia dan saya akan saling memuliakan.  :*

Sdh jam 2 rupanya, yang niat sahur… selamat bersantap yah bebs. Eike take a rest dulu. Akhir kata,  meski gula mengalami kenaikan tetap sweet dream yeahh!
Wassalam alaikum warahmatullah…

Rabu, 31 Desember 2014

Selamat Ulang Tahun Bumiku


Asslamu alaikum…

Alhamdulillah kita telah beranjak dari Tahun 2014. Seiring dengan itu pula masing-masing dari kita mengutarakan, menselatankan, menimurkan dan membaratkan setangkup harapan di atas bumi ini, hehehe. Harapan yang terus berulang dari tahun ke tahun. Ada kesyukuran dan ada penyesalan.

Bumi telah memasuki usia 2015 terhitung sejak manusia mengenal penanggalan Masehi. Bukan waktu yang sebentar, meski kita tidak sepenuhnya menjadi saksi sejarah sepanjang usia tersebut. Yah, saya dan kamu hanya khalifah penerima tongkat estafet dari penghuni2 sebelumnya dan insyaAllah kelak mengamanahkan tongkat tersebut ke generasi selanjutnya.

365 hari dalam setahun bukan waktu singkat untuk melakoni peran kita , ada yang tersimpan dan ada yang terlupakan. Dan hari ini kita kembali   mengulang ritual Tahun baru dengan cara kita masing-masing. Mencoba menapak tilas perbuatan, keangkuhan, kenakalan, kekonyolan, tangisan, teriakan, kesepian, gurauan, pemberontakan, kepasrahan, yang ter-frame dalam setiap jejak.

Di usianya yang ke 2015 apakah bumiku kian menua? Iyya… bumiku kian menua, namun lucunya yang pikun malah para penghuninya. Cenderung lupa pada Tuhan, lupa pada sesama, pada budak, pada punggawa, pada udara, pada matahari, pada bulan, pada tanah, pada air, dan lupa jika ia sering menolak lupa. 
Maaf kami sedang lupa karena sedang dicumbu waktu. Kami sedang lupa jika ritual seperti ini hanyalah syndrome efek semalam. Padahal kami tau jika pergeseran waktulah penyebab pergeseran lempengan2 di bawah laut, siap memuntahkan gelombang dahsyat kapanpun itu sperti kemarin yg telah menyisakan efek traumatis pasca tsunami 26 Desember 2004. Kemarin kami sempat mengingat, tapi maaf jika malam ini kembali lupa dan hanya tersadar pada moment tertentu dengan ucapan kalimat sederhana tanpa tindakan. Yaahh seperti pada coretanku ini.

Apakah bumiku sudah sakit sakitan? Iyya bumiku sedang sakit, tp maaf malam ini penghunimu lagi sibuk memainkan petasan, mengguncang tubuhmu dan mengotori paru-parumu dengan asap asap harapan. yaahhh mungkin ini candu budaya kami tiap tahunnya, seperti candu pada rokok, pada kopi, pada music, pada mie instan dan hal menarik lain yang kami sendiri lupa akan unsur negatif yang ada. 

Apakah bumiku telah rapuh? Iyya, fisik bumiku mulai merapuh. Sana sini terjadi kerusakan alami dan kesengajaan.  Banjir manado, longsor banjar negara, jatuhnya airAsia dan lain lain. Lebih parahnya lagi jiwa penghuninya ikut-ikutan merapuh. Berdebat atas nama rakyat, mempertontonkan kemiskinan di reality show hanya untuk sebuah rating siaran, penjarahan baik secara terang2an oleh geng motor hingga perampokan dgn gaya elegan dibalik  kebijakan penguasa.  Dan banyak lagi keunikan perilaku kami diluar ambang moral, lucu sekaligus menyedihkan. Ada apa ini? Ahh… untuk malam ini, bumiku mungkin lelah mengingatkan hingga hujanpun ikutan diam dan berhenti. 

Tapi wahai bumiku…  kami membutuhkanmu hari esok dan seterusnya. Teruslah kuat meski kami makin beringas dan kejam. Tetaplah tabah karena kami makin angkuh dan apatis. Tetaplah jadi pijakan kami, karena kami butuh media refleksi untuk tetap tawaduk di hadapan Sang Pencipta. Kami butuh alam sebagai taswir keindahan yang telah diberikan Sang Pengasih. Kami butuh ruang untuk mengukur sesuatu yang tak dapat kami jangkau dengan mata kami. Yaahh Kami butuh kamu untuk menebar cinta. Dan yakinlah wahai bumi, masih ada penghunimu yang peduli dan rela berjuang terinjak mati mempertahankanmu.

Semangat Ulang Tahun Baru Bumiku. Panjang umur dan berjayalah. Semoga menjadi semangat baru bagi kami penghunimu, dan semoga kita semua senantiasa dalam Lindungan-Nya. Bismillahirrahmanirrahim.

Wassalam